Menulis Inspirasi Berbagi motivasi

Senin, 01 Maret 2021

Menulis Buku Non Fiksi Dalam Waktu 7 Hari


Tidak ada manusia yang hidup abadi. Namun, manusia punya cara untuk dapat terus abadi. Seperti halnya yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer,

“Orang boleh pandai  setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang, di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Maka dapat kita simpulkan, bahwa ketika kita ingin hidup abadi mulai dengan menulis.

Pertemuan menulis edisi ke 21 ini, memberikan secercah cahaya kepada kita untuk menjawab tantangan dari Prof. Eko. Menulis buku kolaborasi dalam  waktu satu minggu. Menulis dalam waktu satu minggu memang bukanlah hal yang gampang. Apalagi untuk kita sang penulis pemula. Berhari-hari kita buka tutup chanel you tobe milik Prof Eko. Menemukan ide apa yang cocok untuk kita angkat ke dalam tulisan kita, hingga  bisa menjadi sebuah buku. Bingung sekali ide apa yang harus dipilih. Ketika kita memilih satu ide, artinya kita harus mampu mengembangkan ide tersebut ke dalam TOC/ kerangka tulisan.

Di pertemuan menulis ke 21 ini, hadir kembali alumni dari gelombang menulis angkatan 8. Beliau adalah Ibu Iin dengan nama lengkapnya adalah  Ibu Suiin. Ibu Iin merupakan  salah satu alumni yang telah berhasil menaklukkan tantangan menulis dari Prof Eko. Dalam waktu satu minggu. Buku kolaborasi beliau bersama Prof Eko, saat ini telah berbaris cantik diantara buku keren lainnya di toko buku besar di negeri ini. Baik itu online ataupun secara ofline. Toko buku besar itu adalah Gramedia Pustaka.  Judul buku beliau adalah  Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi.




Menurut Bu Iin, dalam tantangan menulis ini. Prof Eko diibaratkan sebagai seorang  Master Chep. Memberikan kita banyak bahan masakan yang dapat kita olah ke dalam berbagai jenis hindangan masakan.  Bahan-bahan yang kita butuhkan untuk memasak tulisan itu, telah Prof Eko sajikan dalam chanel ekodjinya.

Semua pilihan bahan yang akan diolah menjadi tulisan,  ada di tangan kita. Silahkan kita mulai menulis dari apa yang kita sukai, kita cintai dan kita kuasai. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan merupakan bentuk isi buku yang ada dalam diri kita. Harus dapat kita keluarkan menjadi wujud nyata dalam bentuk karya yang dapat dinikmati oleh orang lain.  Namun tetap kembali lagi pada diri kita sendiri. Apakah potensi itu mau kita keluarkan dalam buku, atau hanya dikeluarkan dalam bentuk bahan ajar di sebuah kelas, ataupun hanya kita keluarkan sebatas obrolan saja. Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa ketika kita memutuskan untuk mengeluarkannya dalam bentuk obralan. Maka semua akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Menulis memanglah bukan keterampilan yang mudah. Menulis tidaklah semudah berbicara, apalagi semudah bergosip. Namun karena, menulis itu sulit maka memberikan tantangan tersendiri. Melewati proses dalam menulis, seperti mengikuti kelas, membuat resume, dan menulis buku. Perlahan-lahan, akan menimbulkan rasa cinta di hati kita terhadap menulis.

Ada beberapa pola yang perlu yang perlu kita ketahui saat kita menulis buku non fiksi, diantaranya adalah

1.      Pola hierarkis (buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)

2.      Buku procedural (buku yang disusun berdasarkan tahapan proses)

3.      Pola klaster ( buku disusun secara point per point)

Untuk Bu Iin sendiri dalam bukunya digital letarasi, menggunakan pola penulisan klaster. Dalam proses penulisan buku ini memiliki tahapan yakni 

  • 1.      Pratulis terdiri dari

a.       Menentukan tema

b.      Menemukan ide

c.       Merencanakan jenis tulisan

d.      Mengumpulkan bahan tulisan

e.       Bertukar pikiran

f.       Menyusun Draf

g.      Meriset

h.      Membuat mind mapping

i.        Menyusun kerangka

  •          Menulis draf
  •           Merevisi draf
  •           Menyunting naskah
  •       Menerbitkan

Menurut Bu Iin dalam menulis ada juga beberapa hambatan yang kita alami diantaranya adalah

  • Hambatan waktu
  • Hambatan kreativitas
  • Hambatan teknis
  • Hambatan tujuan
  • Hambatan psikologi

Diantara hambatan yang ada, yang paling berat adalah hambatan psikologi. Hal ini dikarenakan berkaitan dengan deadlinenya penulisan. Namun tetap saja rasa optimis harus ada, ketika hambatan hadir tentu akan hadir juga solusi mengatasi hambatan tersebut.

1.      Banyak membaca

2.      Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan  narasumber.

3.      Displin menulis setiap hari

 

Sebagai bahan referensi kita dalam menulis kerangka, berikut contoh kerangka dari buku Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi karya Bu Iin.

BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

A.    Pembagian Generasi Pengguna Internet

B.     Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

A. Media Sosial

B. UU ITE

C. Kejahatan di Media Sosial

BAB 3 Literasi Digital

A.    Pengertian

B.     Elemen

C.     Pengembangan

D.    Kerangka Literasi Digital

E.     Level Kompetensi Literasi Digital

F.      Manfaat

G.    Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Generasi

H.    Kewargaan Digital

BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara

A.    Keluarga

B.     Sekolah

C.     Masyarakat

BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia

B. Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia

C. Membangun Digital Mindset Warganet +62

 Dwi Rahmiati

Guru MTs Negeri 2 Mukomuko Bengkulu

 

 

Read More

Senin, 15 Februari 2021

Rumus Canggih Menulis Satu Minggu

 


        Alhamdulillah, itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa bersyukur saya. Malam hari ini, semua rasa penasaran saya terjawab sudah. Di pertemuan ke sembilan belas ini, kami peserta menulis gelombang 17. Diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung  dengan bapak professor hebat. Selama pelatihan menulis, kami seringkali mendengar nama bapak professor disebutkan. Ada beberapa narasumber hebat, yang menyampaikan pengalaman menarik dan membanggakan saat kolaborasi bersama bapak professor. Semakin sering dibahas, saya semakin penasaran. Siapakah sosok fenomenal ini, yang begitu memukau dan memikat hati untuk semangat belajar?

Bahkan moderator handal, yakni Bunda Aam Nurhasanah. Merupakan salah satu alumni yang berhasil mewujudkan impiannya. Berhasil menebus penerbit mayor bersama bapak professor. Bapak professor ini adalah Professor  Richardius Eko Indrajit.

Beliau adalah seorang akademisi dan pakar teknologi informatika. Lahir di Jakarta 24 Januari 1969. Dengan segudang prestasi yang tak diragukan. Banyak karya hebat yang telah membahana tidak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri.  Menempuh program pendidikan di berbagai universitas luar negeri. Telah mengantarkan professor menduduki berbagai jabatan penting. Hingga pernah menjadi staff khusus menpora. Masya Allah, sungguh pencapaian prestasi yang luar biasa. Dalam hati saya bershalawat, semoga kesuksesan prof dapat tertular kepada saya. Hidup ini terasa lebih berarti jika telah memberikan manfaat bagi orang lain. Untuk lebih mengenal sosok Professor Ricahardus Eko Indrajit, maka kita dapat mengunjungi situs http://id.wikipedia.org/wiki/Richardus_Eko_Indrajit.

Malam ini, ada paparan yang special dari Prof Ekodji. Saat menuliskan paparan materi, Prof Eko menuliskan angka dari setiap materinya. Mulai dari satu hingga tiga puluh. Materi pembalajaran yang disampaikan begitu unik. Bahasanya sederhana, namun mudah dicerna.

Menelusuri jejak beliau, dalam menghasilkan tulisan hebat dalam waktu kilat. Tema menulis malam ini pun adalah Kiat Menulis Buku dalam Waktu Seminggu. Menulis. Terkesan sangat berat, lebih berat daripada harus merindu.

Sebagai manusia, seringkali kita menjalin komunikasi dengan cara bercerita. Bercerita apa saja yang dapat kita ceritakan. Ketika telah bercerita, maka seakan bahan cerita kita mengalir begitu saja. Kegiatan bercerita yang kita lakukan tentu akan berlansung setiap hari. Mulai dari kegiatan kita. Pekerjaan kita. Kebersamaan dengan keluarga, serta banyak hal-hal lainnya.

Konsep dalam menulis adalah sederhana, saat apa yang kita ceritakan kita tuangkan dalam tulisan. Maka dapat kita bayangkan berapa lembarkah tulisan yang telah kita buat. Misalkan, ada diantara kita yang betah untuk bercerita. Bahkan telah manghabiskan waktu kurang lebih satu jam ataupun lebih untuk bercerita. Namun kali ini konsep bercerita kita lewat mulut. Kita ubah menjadi  via tulisan. Ini adalah salah  satu cara agar dapat tembus menulis buku dalam waktu seminggu. Berikut ada beberapa hal penting,  yang dapat kita lakukan untuk dapat menulis buku  dalam waktu seminggu.

1.      Pilihlah satu topik yang disukai dan kuasai. Jangan ceritakan  ke orang lain lewat obrolan tapi sampaikan lewat tulisan

2.      Lakukan kegiatan menulis tanpa harus menunggu.

3.      Belajar untuk komitmen dan konsisten dalam menulis. Jadikan menulis sebagai pembiasaan diri.  Saat kita kehilangan ini, Prof menyampaikan bahwa ia pernah memaksa dirinya. Hingga akhirnnya berkhayal dan menghasilkan tulisan.

4.      Menulislah tidak hanya semata untuk publikasi tapi menulislah dengan hati. Agar kita bahagia, sesibuk apapun kita. Menulis tidak akan membuat kita menjadi lelah, karena kita melakukan dengan bahagia.

5.      Saat kita membutuhkan waktu luang dalam menulis, kita harus komunikasikan dengan keluarga. Agar apa yang kita lakukan dapat dikerjakan dengan senang, tanpa ada hambatan dan tanpa ada yang kurang nyaman dengan kegiatan kita.

Quote Note dari Prof Ekodji yang begitu memukau adalah harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, sejak dulu nenek moyang kita mengingatkan agar kita menulis. Untuk hidup kita seribu tahun lagi.

Saat kita bukan siapa-siapa di dunia ini, maka menulislah. Hingga kebermanfaatan kita untuk dunia akan terus abadi selamanya.

#semangatmenulisbukudalamsatuminggu

#akubisapastibisa

 

Dwi rahmiati (Guru MTs Negeri 2 Mukomuko)

 

 

Read More

Jumat, 12 Februari 2021

Strategi Menembus Tulisan di Penerbit Mayor

 


        Memasuki pertemuan ke 17 di kelas menulis, gelombang 17. Memberikan warna yang berbeda dari pertemuan sebelumnya. Pemaparan materi dari narsumber semakin padat dan menggigit. Sungguh sayang sekali jika harus dilewatkan.

Pertemuan ini, merupakan pertemuan yang sangat dinanti. Berbagai pertanyaan dan rasa penasaran kita tentang bagaimanakah caranya karya kita dapat tembus, ke penerbit impian? Akan terjawab sudah. Ditemani oleh bapak Sucipto Ardi selaku moderator. Pertemuan ke 17 di Rabu, 10 Februari 2021 ini mengangkat tema “Menembus Tulisan di Penerbit Mayor”. Pemaparan materi kali ini langsung disampaikan oleh  bapak Edi S. Mulyanta, selaku bapak Manager Oprasional Penerbit Andi.

Materi pembelajaran di kelas menulis pertemuan ini, merupakan lanjutan materi dipertemuan sebelumnya. Pemaparan materi yang disampaikan naraumber, masih pada satu titik yang sama. Pembahasannya tentang seluk beluk menerbitkan buku di penerbit mayor. Tentu, yang berperan sebagai narasumber adalah bapak hebat yang telah berkecimpung selama bertahun-tahun di penerbit mayor. Khususnya pada Penerbit Andi Offiside.

Mengawali pemaparan materi pembelajaran, Bapak Edi memberikan pencerahan makna  dari penerbit dan penerbitan, penulis  dan penulisan  serta buku dan naskah buku. Menurut UU No 3 Tahun 2017 tentang system perbukuan yakni

  •    n Penerbit adalah  lembaga pemerintah dan swasta yang menerbitkan buku.
  •   Penerbitan adalah rangkaian proses kegiatan mulai pengeditan, pengilustrasian, hingga pada mendesain buku.
  •        Penulis adalah  orang yang bertindak sebagai penulis naskah buku.
  •        Penulisan adalah penyusunan naskah buku.
  •     Buku adalah karya tulis yang diterbitan berupa cetakan berjilid  atau berupa publikasi di media elektronik.
  •      Naskah buku adalah drap karya tulis  yang memuat bagian awal, isi dan akhir.

Menurut Bapak Edi, sebenarnya tidak ada istilah yang namanya penerbit minor atau mayor. Akan tetapi perbedaan itu hanya terbatas pada seberapa jumlah produksi  buku yang ISBN. Berikut disajikan sebuah skema yang memberikan gambaran tentang golongan penerbit.


Dijelaskan bahwa ISBN Publication Element adalah jumlah produk buku. Semakin besar digitnya maka semakin besar  jumlah kapsitas produksi bukunya. Untuk penerbit Mayor, memiliki rentan digit 3 hingga 4 digit.  Kapasitas produksi dan penjualan dalam hal ini dapat mencapai jumlah tertentu. Melalui jumlah yang besar ini, penerbit dapat mendistribusikan secara merata ke seluruh toko buku secara nasional. Sehingga, dapat dikatakan  penerbitan skala nasional.

Penyebutan ini akhirnya, diadopsi di peraturan-peraturan setelahnya.dalam hal untuk pengukuran indeks. Kemudian, melalui ini penulis-penulis yang tergabung dalam profesi, mengaharuskan untuk melahirkan sebuah tulisan. Tulisan ini dijadikan sebuah persyaratan bagi kenaikan pangkat golongan. Dalam peraturan Permen PAN angka kredit penulisan buku menjadi angka penting dalam kenaikan pangkat.

Tahun 2009 terbitlah peraturan pemerintah No 75 yang mengatur pelaksanaan  UU Perbukuan Nomor 3 Tahun 2017.  Peraturan ini berisikan pembagian jenis-jenis buku yang ditulis oleh penulis. Diantaranya adalah

  • Ø     Buku teks pelajaran,  memiliki angka kredit yang tinggi apalagi jika lolos dalam  BSNP( Badan Standar Nasional Pendidikan)
  • Ø     Buku non teks, berupa buku pengayaan dan buku modul pembelajaran
  • Ø     Buku umum, buku karya fiksi seperti halnya novel.

Lantas, bagaimanakah tipsnya agar karya kita dapat diterbitkan? Bagi saya pribadi, ini adalah pertanyaan yang sangat ditunggu-tunggu jawabannya. Alhamdulillah, Bapak Edi memberikan jawaban dan pencerahaan atas pertanyaan ini. Menurut Bapak Edi, ada beberapa point penting yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai penulis. Agar tulisan kita dapat diterbitkan. Diantaranya yaitu,

  • Ø  Perhatikan  sudut pandang penerbit terhadap calon naskah yang akan terbit. Dalam hal ini lebih kepada unsur market yang dominan.
  • Ø  Sesuaikan bahan naskah yang diterbitkan dengan visi dan misi penerbit, agar naskah dapat diterima.
  • Ø  Tulislah proposal pengajuan naskah  yang akan ditawarkan ke penerbit. Isi proposal adalah judul, sub judul jika ada, synopsis buku, outline, sampel bab(minimal 2 bab), dan CV Penulis.
  • Ø  Berikan penjelasan sasaran pemasaran. Untuk dapat membantu penerbit dalam memandang naskah kita.
  • Ø  Sertakan keungulan naskah buku kita dibandingkan dengan pesaing lain.
  • Ø  Kirimkan naskah buku kebeberapa penerbit. Tapi, pastikan penerbit anggota IKAPI. Agar lebih dihargai dalam penilaian angka kredit yang lebih maksimal.

     Di era pandemi ini, dengan segala kondisi yang ada. Perlu kita sadari bahwa semua yang ada penuh dengan keterbatasan. Bapak Edi pun menyampaikan, bahwa tidak semua buku dapat diterbitkan oleh penerbit. Penerbit Andi sendiri hanya dapat menerbitkan 20-30 persen saja, dari 200 naskah yang masuk ke penerbit. Keterbatasan modal, strategi pemasaran, dan masa pandemic menjadi kendala dalam pendistribusian buku.

    Proses perubahanpun terjadi dalam pendistribusian buku.  Pendistribusian lebih banyak ke ranah digital. Kerjasama pemasaran saat ini dijalin bersama Google Play. Untuk dapat menebus ke pasar digital. Menyikapi hal ini, tentu mau tidak mau. Suka tidak suka, atau bisa tidak bisa kita harus menerima perubahan tersebut. Semoga apa yang tengah terjadi, tidak dapat menjadikan kita  kehilangan semangat dalam berkarya. 

Pesan yang begitu berkesan dari Bapak  Edi Mulayanta di akhir pertemuan adalah

Jangan pernah  putus asa menawarkan tulisan ke penerbit. Penerbitpun membutuhkan karya-karya baru yang dapat memberikan warna baru di dunia menulis. Keuntungan dari penerbitan, sangat membantu penerbit untuk terus bertahan dan tumbuh. Begitupun dengan penulis, ketika tulisan itu dapat diterbitkan, dan dipasarkan. Penulis juga akan terus tumbuh dalam berkarya hingga akhirnya berjaya.

Inti dari pesan Bapak Edi, meminta kita untuk terus semangat. Jika ada lima kali kegagalan . Maka  akan ada delapan langkah kesuksesan. Terus berkarya dan   terus menebar manfaat.

Dwi Rahmiati

MTs Negeri 2 Mukomuko

 

 

Read More

Selasa, 09 Februari 2021

Strategi Jitu Memasarkan Buku

 


        Ketika membaca sebuah tulisan, apakah itu dalam bentuk artikel ataupun dalam bentuk buku. Sering terbesit dalam pikiran saya, kapankah nama saya bisa tertulis di tulisan itu sebagai penulis? Sungguh senang rasanya jika apa yang selama ini saya pikirkan menjadi kenyataan. Namun, bagaimanakah cara untuk mewujudkannya?

Bergabung di grouf menulis ini, ternyata memberikan secercah cahaya bagi saya. Untuk dapat mewujudkan, apa yang menjadi impian saya. Tidak hanya diberikan bekal dan keterampilan dalam menulis. Grouf menulis ini membuka jalan bagi saya untuk dapat menerbitkan tulisan saya.

            Alhamdulillah, kebaikan hati Om Jay dan rekan panitia lainnya. Memberikan kesempatan bagi kami untuk berdiskusi langsung dengan penerbit buku lewat whatssap grouf. Baik itu penerbit indie atau penerbit mayor.

Di pertemuan sebelumnya, panitia telah memberikan  ruang untuk menyimak dan berdiskusi dengan para penerbit indie seperti Pak Brian, Cak Mimin, dan Ibu Kanjeng. Alhamdulillah, dipertemuan ke 16 ini. Panitia kembali  memberikan ruang untuk  peserta menulis, menyimak materi  dan berdiskusi langsung dengan penerbit buku. Kali ini, yang akan berbagi materi adalah dari Penerbit Mayor. Penerbit mayor tersebut adalah Penerbit Andi. Penerbit besar, yang kiprahnya hampir dikenal semua orang. Lewat buku-buku yang telah dilahirkannya dengan sempurna.

Seperti yang telah tertera di poster, tema kelas menulis malam ini adalah “ Teknik Memasarkan Buku”. Saya rasa ini dalah tema unggulan, yang telah dinanti oleh para peserta menulis. Memasarkan buku, merupakan titik akhir dimana buku kita akan bermuara. Malam ini akan di isi langsung oleh Bapak Agus Subardana. Selaku direktur pemasaran penerbit Andi.

Berdasarkan data yang diperoleh, di tengah melesunya berbagai industri akibat pandemi. Justru industri penerbitan buku di pasar global kian bertumbuh. Lantas, bagaimanakah dengan Indonesia? Itulah menjadi pertanyaan untuk kita semua.

            Diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia, yang dikutip dari situs resmi www.ikapi.org. Industri penerbitan nasional berdampak cukup keras dari paparan pandemi ini. Banyak penerbit yang mengalami penurunan omset, lantaran penjualan buku merosot hingga 50%. Meskipun ada beberapa penerbit Indonesia yang justru mengalami pertumbuhan. Termasuk halnya dengan Penerbit Andi, yang Alhamdulillah menurut Bapak  Agus masih bertahan dan tetap tumbuh. Terbukti, di tahun 2021 ini penerbit Andi membuka cabang representative sebanyak 120 titik di kota dan kabupaten Indonesia.

            Dalam rangka mencapai pemasaran buku yang maksimal, dibutuhkan adanya strategi pemasaran yang mumpuni. Strategi pemasaran penjualan buku sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek. Mengapa demikian? Karena banyaknya jenis buku yang diterbitkan. Jenis-jenis buku tersebut dikelompokkan dalam suatu kategori. Seperti halnya dalam penerbit Andi misalnya terdapat 32 jenis kategori  produk buku. Berisikan buku teks, buku anak, buku fiksi, dll. Apabila telah dikategorikan tentu memberikan kemudahan bagi pemetaan dalam pemasaran. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi strategi dalam pemasaran buku, yaitu

*      Faktor mikro diantarnya adalah pesaing, pemasok, perantara dan masyrakat.

*      Faktor makro diantaranya adalah demografi, ekonomi, politik, hukum, teknologi, dan social budaya.

Untuk penerbitan Andi Offiset sendiri, masuk ke dalam ke dua faktor yaitu makro dan mikro. Hal ini dikarenakan penerbit Andi telah mencapai usia 40 tahun penerbitan dengan jumlah buku terbitan hingga 15.000 judul buku dalam 32 kategori.

Saat ini, untuk dapat memasarkan buku secara maksimal di masa pandemi. Ada dua strategi pemasaran yaitu strategi pemasaran buku online dan offline.

  •          Strategi online (pemasaran lewat jalan udara)

   a. Melalui digital marketing

Manfaat dari strategi online ini adalah daya jangkaun lebih luas, lebih mudah untuk berkomunikasi dengan konsumen, cepat untuk berkembang, biaya lebih murah, dan mudah menentuka targer pasaran dengan mudah, lebih cepat popular, dan lain-lain. Untuk strategi ini perlu keaktifan dalam memasarkan, menjaga kestabilan saat kondisi pasar lesu.

b. Melakukan pemasaran lewat komunitas.

  •           Strategi offline  (pemasaran lewat jalur darat)

            Pemasaran ini dapat dilakukan melalui

v  Toko buku. Untuk menarik minat pembeli, biasanya dapat memberikan berupa diskon harga atau hal lain yang menarik. Untuk saat ini, Penerbit Andi telah membuka beberapa jaringan toko buku. Lewat gramedia ataupun non gramedia.

v  Directselling yaitu melakukan pemetaan buku berdasarkan kategoro buku. Dilakukan dengan memberdayakan tenaga sales.

v  Membuka kegiatan-kegiatan workshop, try out, seminar, atau yang lainnya.

Demikianlah strategi dalam memasarkan buku, yang dilakukan oleh PT Andi Offset. Semoga dalam waktu dekat, kita semua dapat melahirkan karya hebat. Karya yang nantinya akan menebus kepasaran. Dapat dinikmati oleh masyarakat, dan tentunya dapat membawa keberkahan.

 

Dwi Rahmiati

MTs Negeri 2 Mukomuko

 

 

Read More

Minggu, 07 Februari 2021

Ide Kreatif untuk Karya Inovatif

 


Saat kita membaca karya-karya dari para penulis hebat. Rasa kagum dan terkesima pasti selalu hadir. Ide-ide kreatif dari penulis begitu mengalir. Dikemas dengan bahasa yang apik. Membuat kita begitu menikmati, setiap kata demi kata yang tertulis. Tak rela jika harus terlewat walaupun hanya satu kata saja.

Membaca dari rentetan karya Andrea Hirata, dengan buku tetraloginya. Pembaca seakan begitu dekat dengan alam yang digambarkan oleh Andrea Hirata. Seperti halnya saat ia menggambarkan pulau Belitung atau kota Perancis dari novel Sang Pemimpi dan Endensor.

Ada juga Asma nadia dengan novel dan cerpennya. Rangkaian kata  dan alur yang apik, membuat pembaca begitu terkuras emosinya. Ada- ada saja ide yang yang dikembangkan. Hingga melahirkan karya yang membahana.

Tak kalah hebat,  Bapak Munib Qatib juga sangat sukses membius pembaca dalam karya-karya pendidikannya. Seperti dalam bukunya, Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia dan Sekolah Anak Juara. Ide-ide kreatif tentang guru dan pendidikan mengalir dengan sangat indah. Meski dengan bahasa yang sederhana namun sangatlah memotivasi.

Banyak orang hobi membaca, namun saat ingin mencoba menulis. Seringkali  kesulitan dalam menemukan ide dan mengembangkannya.  Kebingungan mencari ide apa, yang lebih pas untuk dikembangkan. Meskipun banyak ada hal menarik, disekitar kita yang dapat kita jadikan ide.

Pertemuan ke 14 di kelas menulis kali. Memberikan pencerahan bagi kita dari permasalahan  soal ide menulis.  Lewat Bapak Agus Sampurna. Beliau adalah  Education Spesialis dan sekaligus ketua yayasan Pendidikan di Sorowako Sulawesi Selatan. Di tahun 2015 hingga 2020, Bapak Agus sempat menjadi konsultan sekolah dan project leader pada putra sampoerna foundation school Devolepment Outreach di Jakarta.

Dalam kesempatan berbagi kali ini, peraih penghargaan blog pendidikan terbaik detik com pada tahun 2009. Mengawali pencerahaannya dengan  sebuah catatan bahwasanya 90% ide tulisan itu muncul. Saat kita tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang tulisan kita. Sedangkan 10% keberhasilan kita dalam menulis adalah dari seberapa kita konsistensi dalam menulis. Dapat diartikan, ide memegang peran paling penting dari menulis.

Berkaitan dengan bagaimankah kita dapat menemukan ide yang menarik kemudian dapat mengembangkan ide dalam tulisan. Pak Agus memberikan point penting yang perlu kita lakukan. Salah satunya adalah membuat  daftra ide yang muncul, kemudian baru kita kembangkan dalam tulisan. Proses untuk mendapatkan ide bisa kita lakukan lewat trik ATM( Amati, Tiru, dan modifikasi). Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini. “No thing New Under The Sun’s.

Memberikan pencerahan dalam menemukan ide saat menulis, ada beberapa tips dari Pak Agus. Tips yang dapat diterapkan kita cermati dan kita terapkan, diantaranya adalah

v Menulislah dengan hati, kemudian mengeditlah dengan pikiran. Utamakan pembahasan inti. Buanglah dengan jauh hal tak perlu

v Jangan mengahakimi diri sendiri saat kita  mulai menulis

v Sederhanakanlah pesan saat menulis, buatlah tulisan kita menarik dan tidak membosankan untuk dibaca

v Menulislah dengan baik seperti halnya kita berpikir dengan baik

v Perbanyak kuantitas dalam menulis, agar kita terlatih.

v Pisahkan kegiatan mencari ide dan menulis

v Konsistenlah dalam menulis,

v Miliki gaya sendiri dalam menulis.

v Publikasikan tulisan menjadi sebuah  hasil karya bukan hanya sekedar asal posting

v Jangan pernah memaksakan diri  untuk punya produk asli sendiri. Tanpa butuh referensi. Hal ini akan menyebabkan penulis justru merasa kesulitan hingga akhirnya meninggalkan menulis.

Pencerahan yang diberikan oleh Pak Agus begitu padat berisi, sangat dekat denga apa yang kita alami sebagai penulis. Terutama penulis pemula.  Dari pencerahan tersebut, mari kita terapkan. Sehingga ilmu yang kita dapatkan tidak hanya sebatas teori. Harus ada aplikasinya, agar keberhasilan kita dalam menulis dapat terwujud. Menjadi penulis hebat sudah terasa lebih dekat, bahkan sangat dekat.

 

Dwi Rahmiati

MTs Negeri 2 Mukomuko

 

 

Read More