Menulis Inspirasi Berbagi motivasi

Senin, 16 Agustus 2021

BANGUN NEGERIKU....




 Semburat cahaya pagi, menerawang

 Menerobos bilik kecil berjendela

 Bangunlah pemudiku

 Pasarmu riuh dengan keramaian

 Bawangmu tak ingin tanpa ikan di panci

 Jago kampung sudah berkokok lantamg

 Bangunlah pemudaku

 Suraumu masih sepi

 Kumandangkan azanmu

 Teriakkan kemenanganmu

 Kemenangan bangsamu

 Memintahlah kepada Yang Agung

 Rahmat dan berkah hidupmu

 Kemuliaan dunia dan kejayaan bangsamu

 Waktu tak bisa terulang

 Kesempatan jangan terlewatkan

 Setiap keringat akan berharga

 Dan keinginan akan terwujud

 Bila kesungguhan dan sabar menjadi     rekanmu

 Isilah negeri ini dengan kerjamu

 Bangunlah bangsamu

 Dengan kebersamaan

 Hati yang tulus tak akan berdusta

 Negeri tak akan rela

 Bila kejujuran dikhianati

 Setiap jengkal tanah akan murka

 Bila kebaikan selalu diabaikan

 Dan keserakahan menjadi mahkota

 Bagi para penguasa yang haus akan kuasa.



Read More

Kamis, 12 Agustus 2021

KOK KELUAR

 

Rasanya sudah lama sekali, tidak menulis di blog. Di pertengahan Agustus ini, diri coba untuk kembali menumbuhkan semangat dalam menulis. Karena sejatinya, tidak ada alasan untuk tidak bisa. Terpenting adalah mau atau tidaknya kita untuk memulai dan mempertahankan semangat. Agar terus konsisten.

Tetap berada di grouf komunitas menulis. Memantau dan bertamasya di blog keren para sahabat blogger. Membuat saya banyak menemukan inspirasi dalam menulis. Tinggal menuangkan saja, ide menulis dalam tulisan di blog.

Hari ini, sudah hari ketiga saya demam. Badan panas, mulut pahit, dan kepala terasa pusing. Tapi penciuman Alhamdulillah masih ada. Bahkan ketika mencium aroma nasi, seketika perut teras mual dan muntah. Tapi, saya coba belajar untuk menikmati dulu rasa sakit ini. Sebagai penggugur dosa. Yang terpenting, saya terus konsumsi vitamin, madu, dan air putih hangat. Agar daya tahan tubuh tetap kuat.

Berbaring di tempat tidur, rasanya sudah capek banget. Tapi kalau untuk melakukan aktivitas lain, tubuh masih lemas. Badan terasa gemetar. Akhirnya saya putuskan hari ini untuk tidak berangkat kesekolah dulu. Sampai badan terasa agak pulihan. Apalagi saat ini, kondisi kita sedang pandemi.

Tiba-tiba, ketika mata tak bisa terpejamkan kembali. Kok Keluar, ide ingin menulis. Kok keluar, semangat ingin menulis di blog.  Tapi, siang ini lampu mati. Jadi, sinyal pasti hilang. Artinya, saya tidak bisa membuka blog. Tapi tidak masalah, mumpung ide lagi keluar, saya harus menuliskankannya dalam bentuk word dulu. Nanti tinggal dipindahkan ke dalam blog. Semoga dengan menulis ini, bisa membuat kejenuhan di rumah terobati. Saya cepat sehat, dan beraktifitas kembali. Kasihan juga, anak-anak harus terabaikan kalau sang bunda sakit. Kata suami saya, rumah sepi sekali bunda. Ayo cepat sehat…

Alhamdulillah selesai, cukup ini dulu yang ditulis.  Sederhana sekali memang. Tapi tidak apa-apa kan sahabat blogger? Kepala cenad-cenud pisan. Mohon maaf, saya berbaring kembali…

😇😇

Read More

Senin, 02 Agustus 2021

Menjadi Guru Dahsyat Untuk Siswa yang Hebat




      Percaya atau tidak percaya, kita memang harus percaya. Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin terjadi jika Allah menghendaki. Manusia memang tak dapat merubah takdir kematian yang telah ditentukan.  Namun, manusia memiliki kemampuan untuk menentukan takdir masa depan. 

    Semua bermula dari mimpi, mimpi menjadi pelecut semangat terhebat yang kita miliki. Ketika kita memiliki sebuah impian besar, maka sungguh kitapun akan berusaha lebih besar lagi dalam mewujudkannya. Seperti yang dikatakan mas Adrea Hirata, sang penulis tetralogi Laskar Pelangi. Dalam buku Sang Pemimpi, yang masih selalu  saya ingat hingga sekarang adalah ketika dalam rangkaian katanya, Andrea mengatakan bahwa Bermimpilah Kamu, karena Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu. Sejak saat ini, saya semakin semangat untuk bermimpi. Keyakinan dalam hati inipun semakin kuat, jika tiba massanya mimpi-mimpi saya akan terwujud.

    Dulu ketika membaca buku, para pengarang hebat. Seringkali terbesit dalam hati dan pikiran. Kapan ya, nama saya terukir sebagai nama penulis buku. Mulailah membangun mimpi, menuliskan dalam sebuah catatan. Saya ingin menjadi penulis legend, meski kehidupan saya telah berakhir namun karya saya harus tetap ada. Tetapi eksis di belantika pendidikan.😇😇

    Melewati rangkaian proses belajar. Berjalan perlahan dalam fase metramorfosis, dengan keyakinan yang kuat. Bahwa saya harus, membuktikan bahwasanya mimpi tak hanya sekedar mimipi. Tahun ini juga saya harus louncing sebuah buku. Buku yang dapat memberikan warna dan inspirasi dalam dunia pendidikan. Menempatkan posisi saya sebagai seorang pendidik. 

    Menjadi pendidik, tidaklah semudah menjadi pengajar. Sebagai seorang guru, saya bukan hanya mengajari siswa materi, tapi terpenting adalah harus bisa mendidik. Bagaimana seorang guru, harus selalu belajar dalam mengajar? Hingga mampu, selalu siap menuangkan air segar pelepas dahaga bagi siswa. 

    Pandemi memberikan banyak arti dalam kehidupan ini. Memberikan corak warna berbeda-beda dalam setiap sesinya. Suka dan duka dalam pandemi hadir dengan porsi berbeda, namun sebenarnya sama. Bergantung dengan kita bagaimana memandang dan menyikapinya. 

Read More

Senin, 05 April 2021

Dies Natalis UNIB 2021


   

Menjadi sebuah kebanggaan pernah menjadi bagian dari kampus hijau ini. Kampus sejuk, asri, dan luas. Empat tahun menapaki jalan pendidikan disini, rasanya sesuatu sekali.  Mulai dari awal mendaftar menjadi calon mahasiswa hingga mendaftar menjadi calon wisudawan.


Masih teringat, saat riwehnya regristrasi pendaftaraan calon mahasiswa. Antrian panjang yang seakaan tak ada putusnya. Dari matahari mulai tersenyum hingga matahari  tertawa lebar. Belum juga selesai. Ketika sampai pada anteran kita, jreng…jreng.., maaf dek waktunya istirahat.  Waduh rasanya seperti petir di siang bolong. Seketika lapar di perut makin membuncah. Pusing kepala makin terasa. Lelah, letih, lunglai, jadi satu. Namun, ditengah capek yang luar biasa, kembali ingat pesan orang tua. Kalau mau kuliah tak ada kata cengeng. Tak drama. Kita tak punya banyak uang untuk menguliahkanmu. Seketika juga, sambil menelan ludah dalam-dalam,  semangat kembali terpompa.

Rangkaian agenda pendaftaran telah dilalui, tinggal menunggu waktu tes. Tak ada bimbel try out, atau apalah istilah sebelum mengikuti tes. Jika ingin berhasil maka berusahalah sendiri. Suksesmu kamu yang ciptakan bukan orang lain  Akhirnya bermodal soal-soal tes kakak tingkat terdahulu. Aku berusaha sendiri mencarri jawaban atas soal-soal tersebut. Lumayan paling tidak sudah punya gambaran. Meskipun dari 100 yang aku kerjakan hanya bisa menyelasaikan setengahnya. Terpentimg ada ikhtiar yang sudah aku lakukan. Tak lupa, iktiar langitpun terus aku luncurkan. Berharap Allah memberikan kesempatan agar aku bisa belajar di bangku kuliah. Seperti halnya teman-teman sekolahku yang lain.

            Di saat waktu ujian tiba, tetap ada rasa dag dig dug. Jika aku tidak lulus tes di kampus ini. Jelas sudah, aku harus segera mengubur mimpi-mimpiku untuk bisa belajar di bangku kuliah. Tak akan ada kesempatan kedua, untuk bisa kuliah di kampus lain. Selain UNIB satu-satunya kampus umum negeri  di kota ini. Orang tuaku tak cukup biaya untuk menyekolahkanku di kampus swasta. Aku mulai tes dengan keyakinan, bahwa apapun yang terjadi nanti. Aku sudah berusaha. Aku yakin Allah tahu yang terbaik dalam hidupku. Aku yakin Allah akan memberikan apa yang aku butuhkan. Bukan yang aku mau.

          Alhamdulillah luar biasa, bermodal keyakinan dan kepasrahanku kepada Yang Maha Kuasa. Aku lulus seleksi, aku lulus di jurusan yang bukan aku kehendaki. Menjadi Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia. Aku sebagai yang wanita yang tak puitis harus banyak belajar menjadi puitis. Rasanya pusing bukan kepalang. Tapi tetap maju untuk menjalani dan mencintai.



       Perjalanan pendidikan di BAHTRA( Bahasa dan Sastra), tidak hanya memberikan aku ilmu tentang bahasa dan sastra. Di sana aku juga mulai menemukan hakikat hidup yang sebenarnya. Aku mulai hijrah. Aku mulai lebih mendekatkan diri kepada  Sang pencipta. Hingga kutemukan jua sahabat-sahabat yang baik hati.  Selalu ada saat aku sulit dan terjepit. Terutama masalah ekonomi dan hati. Lewat mereka aku mulai belajar mandiri. Mulai belajar bagaimana cara menghasilkan uang sendiri. Mulai berdiri di kaki sendiri. Karena kiriman setiap bulan dari orang tua semakin sulit aku harapkan. Kondisi keluarga yang terasa begitu memprihatinkan saat itu, tak bisa aku berharap dari kiriman.

            Tak hanya dikenalkan oleh dua sahabat yang begitu luar biasa. Akupun banyak belajar dari sosok yang menginspirasi. Aku mulai termotivasi dari mereka. Mulai berani mengukir mimpi. Mulai berani mempunyai target kehidupan. Hingga bahkan aku mulai berani untuk melangkah perlahan. Demi terwujudnya apa yang menjadi impiannku.

      Di kampus hijau ini juga, aku temukan motto hidup dari penulis buku best seller  yakni bermimpilah karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Akupun semakin yakin, untuk lebih banyak mengukir mimpi.

         Target selesai kuliah dalam waktu tercepat, itulah target awal yang aku tuliskan. Tak ingin sebatas target, sekuat tenaga akupun mulai melangkah. Tak kenal lelah. Tak kenal drama. Meski berat aku coba untuk mewujudkan wisuda di bulan April tepat tiga tahun  delapan bulan kuliah. Berbagai usaha aku kerahkan, meski harus berjuang sendiri. Aku tak mundur. Bimbingan demi bimbingan aku jalani, saat teman-teman masih bersantai.

Aku terus melangkah, tak perduli siang dan malam. Semenitpun aku tak mau meninggalkan skripsiku.  Akhirnya skripsiku selesai,. Saat hendak sidang. Allah berkehendak lain, pembimbing utamaku sakit. Harus melakukan kemoterapi. Akhirnya sidang skripssi diundur. Sedih di hati pasti ada, tapi rasa optimis dalam hati lebih besar. Keyakinan dalam hati kalau Allah akan memberikan yang dibutuhkan bukan diinginkan.  Lantas membuat aku tak patah semangat. Aku tetap legowo, yang pasti skripsiku selesai. Hingga pada Juli 2011 aku wisuda juga dengan nilai Alhamdulillah memuaskan meski tak coamloude

      Ketika harus menjadi koordiantor bidang di organisasi prodi,  juga memberikan aku segudang pengalaman. Pengalaman harus bekerja sama dengan para kakak angkatan, hingga pengalamana bekerja bersama  dengan adik angkatan. Aku mulai berani mengkonsep sebuah acara baru yang sebelumnya belum pernah ada. Membuat agenda acara tersebut harus mengesankan, dan bisa membangun pandangan yang baik tentang organisasi tersebut.

          Pastinya ilmu dan pengalaman lain yang tak kalah menarik dan luar biasa dari kampus ini, adalah saat harus  belajar sabar. Sabar berjalan  kaki berkilo dari gedung satu ke gedung yang lain.Terpenting yang tak dapat dilupakan adalah bertemu dan belajar bersama orang hebat. Menempa diri menjadi professional, loyalitas terhadap pekerjaan, hingga tak selalu memikirkan imbalan materi lebih dari apa yang kita lakukan.

Barokallah kampus tercinta, terukir rapi namamu di dalam hati.  Terimakasih untuk kenangan dan segala hal yang telah kau berikan. Semakin maju, berkualitas, hebat, dan bermartabat. Menjadi kampus andalan, pencetak generasi negeri cerdas, berdedikasi dan bersinergi.

 

Dwi Rahmiati

Guru MTs Negeri 2 Mukomuko.

Read More

Senin, 01 Maret 2021

Menulis Buku Non Fiksi Dalam Waktu 7 Hari


Tidak ada manusia yang hidup abadi. Namun, manusia punya cara untuk dapat terus abadi. Seperti halnya yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer,

“Orang boleh pandai  setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang, di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Maka dapat kita simpulkan, bahwa ketika kita ingin hidup abadi mulai dengan menulis.

Pertemuan menulis edisi ke 21 ini, memberikan secercah cahaya kepada kita untuk menjawab tantangan dari Prof. Eko. Menulis buku kolaborasi dalam  waktu satu minggu. Menulis dalam waktu satu minggu memang bukanlah hal yang gampang. Apalagi untuk kita sang penulis pemula. Berhari-hari kita buka tutup chanel you tobe milik Prof Eko. Menemukan ide apa yang cocok untuk kita angkat ke dalam tulisan kita, hingga  bisa menjadi sebuah buku. Bingung sekali ide apa yang harus dipilih. Ketika kita memilih satu ide, artinya kita harus mampu mengembangkan ide tersebut ke dalam TOC/ kerangka tulisan.

Di pertemuan menulis ke 21 ini, hadir kembali alumni dari gelombang menulis angkatan 8. Beliau adalah Ibu Iin dengan nama lengkapnya adalah  Ibu Suiin. Ibu Iin merupakan  salah satu alumni yang telah berhasil menaklukkan tantangan menulis dari Prof Eko. Dalam waktu satu minggu. Buku kolaborasi beliau bersama Prof Eko, saat ini telah berbaris cantik diantara buku keren lainnya di toko buku besar di negeri ini. Baik itu online ataupun secara ofline. Toko buku besar itu adalah Gramedia Pustaka.  Judul buku beliau adalah  Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi.




Menurut Bu Iin, dalam tantangan menulis ini. Prof Eko diibaratkan sebagai seorang  Master Chep. Memberikan kita banyak bahan masakan yang dapat kita olah ke dalam berbagai jenis hindangan masakan.  Bahan-bahan yang kita butuhkan untuk memasak tulisan itu, telah Prof Eko sajikan dalam chanel ekodjinya.

Semua pilihan bahan yang akan diolah menjadi tulisan,  ada di tangan kita. Silahkan kita mulai menulis dari apa yang kita sukai, kita cintai dan kita kuasai. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan merupakan bentuk isi buku yang ada dalam diri kita. Harus dapat kita keluarkan menjadi wujud nyata dalam bentuk karya yang dapat dinikmati oleh orang lain.  Namun tetap kembali lagi pada diri kita sendiri. Apakah potensi itu mau kita keluarkan dalam buku, atau hanya dikeluarkan dalam bentuk bahan ajar di sebuah kelas, ataupun hanya kita keluarkan sebatas obrolan saja. Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa ketika kita memutuskan untuk mengeluarkannya dalam bentuk obralan. Maka semua akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Menulis memanglah bukan keterampilan yang mudah. Menulis tidaklah semudah berbicara, apalagi semudah bergosip. Namun karena, menulis itu sulit maka memberikan tantangan tersendiri. Melewati proses dalam menulis, seperti mengikuti kelas, membuat resume, dan menulis buku. Perlahan-lahan, akan menimbulkan rasa cinta di hati kita terhadap menulis.

Ada beberapa pola yang perlu yang perlu kita ketahui saat kita menulis buku non fiksi, diantaranya adalah

1.      Pola hierarkis (buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)

2.      Buku procedural (buku yang disusun berdasarkan tahapan proses)

3.      Pola klaster ( buku disusun secara point per point)

Untuk Bu Iin sendiri dalam bukunya digital letarasi, menggunakan pola penulisan klaster. Dalam proses penulisan buku ini memiliki tahapan yakni 

  • 1.      Pratulis terdiri dari

a.       Menentukan tema

b.      Menemukan ide

c.       Merencanakan jenis tulisan

d.      Mengumpulkan bahan tulisan

e.       Bertukar pikiran

f.       Menyusun Draf

g.      Meriset

h.      Membuat mind mapping

i.        Menyusun kerangka

  •          Menulis draf
  •           Merevisi draf
  •           Menyunting naskah
  •       Menerbitkan

Menurut Bu Iin dalam menulis ada juga beberapa hambatan yang kita alami diantaranya adalah

  • Hambatan waktu
  • Hambatan kreativitas
  • Hambatan teknis
  • Hambatan tujuan
  • Hambatan psikologi

Diantara hambatan yang ada, yang paling berat adalah hambatan psikologi. Hal ini dikarenakan berkaitan dengan deadlinenya penulisan. Namun tetap saja rasa optimis harus ada, ketika hambatan hadir tentu akan hadir juga solusi mengatasi hambatan tersebut.

1.      Banyak membaca

2.      Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan  narasumber.

3.      Displin menulis setiap hari

 

Sebagai bahan referensi kita dalam menulis kerangka, berikut contoh kerangka dari buku Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi karya Bu Iin.

BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

A.    Pembagian Generasi Pengguna Internet

B.     Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

A. Media Sosial

B. UU ITE

C. Kejahatan di Media Sosial

BAB 3 Literasi Digital

A.    Pengertian

B.     Elemen

C.     Pengembangan

D.    Kerangka Literasi Digital

E.     Level Kompetensi Literasi Digital

F.      Manfaat

G.    Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Generasi

H.    Kewargaan Digital

BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara

A.    Keluarga

B.     Sekolah

C.     Masyarakat

BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia

B. Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia

C. Membangun Digital Mindset Warganet +62

 Dwi Rahmiati

Guru MTs Negeri 2 Mukomuko Bengkulu

 

 

Read More

Senin, 15 Februari 2021

Rumus Canggih Menulis Satu Minggu

 


        Alhamdulillah, itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa bersyukur saya. Malam hari ini, semua rasa penasaran saya terjawab sudah. Di pertemuan ke sembilan belas ini, kami peserta menulis gelombang 17. Diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung  dengan bapak professor hebat. Selama pelatihan menulis, kami seringkali mendengar nama bapak professor disebutkan. Ada beberapa narasumber hebat, yang menyampaikan pengalaman menarik dan membanggakan saat kolaborasi bersama bapak professor. Semakin sering dibahas, saya semakin penasaran. Siapakah sosok fenomenal ini, yang begitu memukau dan memikat hati untuk semangat belajar?

Bahkan moderator handal, yakni Bunda Aam Nurhasanah. Merupakan salah satu alumni yang berhasil mewujudkan impiannya. Berhasil menebus penerbit mayor bersama bapak professor. Bapak professor ini adalah Professor  Richardius Eko Indrajit.

Beliau adalah seorang akademisi dan pakar teknologi informatika. Lahir di Jakarta 24 Januari 1969. Dengan segudang prestasi yang tak diragukan. Banyak karya hebat yang telah membahana tidak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri.  Menempuh program pendidikan di berbagai universitas luar negeri. Telah mengantarkan professor menduduki berbagai jabatan penting. Hingga pernah menjadi staff khusus menpora. Masya Allah, sungguh pencapaian prestasi yang luar biasa. Dalam hati saya bershalawat, semoga kesuksesan prof dapat tertular kepada saya. Hidup ini terasa lebih berarti jika telah memberikan manfaat bagi orang lain. Untuk lebih mengenal sosok Professor Ricahardus Eko Indrajit, maka kita dapat mengunjungi situs http://id.wikipedia.org/wiki/Richardus_Eko_Indrajit.

Malam ini, ada paparan yang special dari Prof Ekodji. Saat menuliskan paparan materi, Prof Eko menuliskan angka dari setiap materinya. Mulai dari satu hingga tiga puluh. Materi pembalajaran yang disampaikan begitu unik. Bahasanya sederhana, namun mudah dicerna.

Menelusuri jejak beliau, dalam menghasilkan tulisan hebat dalam waktu kilat. Tema menulis malam ini pun adalah Kiat Menulis Buku dalam Waktu Seminggu. Menulis. Terkesan sangat berat, lebih berat daripada harus merindu.

Sebagai manusia, seringkali kita menjalin komunikasi dengan cara bercerita. Bercerita apa saja yang dapat kita ceritakan. Ketika telah bercerita, maka seakan bahan cerita kita mengalir begitu saja. Kegiatan bercerita yang kita lakukan tentu akan berlansung setiap hari. Mulai dari kegiatan kita. Pekerjaan kita. Kebersamaan dengan keluarga, serta banyak hal-hal lainnya.

Konsep dalam menulis adalah sederhana, saat apa yang kita ceritakan kita tuangkan dalam tulisan. Maka dapat kita bayangkan berapa lembarkah tulisan yang telah kita buat. Misalkan, ada diantara kita yang betah untuk bercerita. Bahkan telah manghabiskan waktu kurang lebih satu jam ataupun lebih untuk bercerita. Namun kali ini konsep bercerita kita lewat mulut. Kita ubah menjadi  via tulisan. Ini adalah salah  satu cara agar dapat tembus menulis buku dalam waktu seminggu. Berikut ada beberapa hal penting,  yang dapat kita lakukan untuk dapat menulis buku  dalam waktu seminggu.

1.      Pilihlah satu topik yang disukai dan kuasai. Jangan ceritakan  ke orang lain lewat obrolan tapi sampaikan lewat tulisan

2.      Lakukan kegiatan menulis tanpa harus menunggu.

3.      Belajar untuk komitmen dan konsisten dalam menulis. Jadikan menulis sebagai pembiasaan diri.  Saat kita kehilangan ini, Prof menyampaikan bahwa ia pernah memaksa dirinya. Hingga akhirnnya berkhayal dan menghasilkan tulisan.

4.      Menulislah tidak hanya semata untuk publikasi tapi menulislah dengan hati. Agar kita bahagia, sesibuk apapun kita. Menulis tidak akan membuat kita menjadi lelah, karena kita melakukan dengan bahagia.

5.      Saat kita membutuhkan waktu luang dalam menulis, kita harus komunikasikan dengan keluarga. Agar apa yang kita lakukan dapat dikerjakan dengan senang, tanpa ada hambatan dan tanpa ada yang kurang nyaman dengan kegiatan kita.

Quote Note dari Prof Ekodji yang begitu memukau adalah harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, sejak dulu nenek moyang kita mengingatkan agar kita menulis. Untuk hidup kita seribu tahun lagi.

Saat kita bukan siapa-siapa di dunia ini, maka menulislah. Hingga kebermanfaatan kita untuk dunia akan terus abadi selamanya.

#semangatmenulisbukudalamsatuminggu

#akubisapastibisa

 

Dwi rahmiati (Guru MTs Negeri 2 Mukomuko)

 

 

Read More

Jumat, 12 Februari 2021

Strategi Menembus Tulisan di Penerbit Mayor

 


        Memasuki pertemuan ke 17 di kelas menulis, gelombang 17. Memberikan warna yang berbeda dari pertemuan sebelumnya. Pemaparan materi dari narsumber semakin padat dan menggigit. Sungguh sayang sekali jika harus dilewatkan.

Pertemuan ini, merupakan pertemuan yang sangat dinanti. Berbagai pertanyaan dan rasa penasaran kita tentang bagaimanakah caranya karya kita dapat tembus, ke penerbit impian? Akan terjawab sudah. Ditemani oleh bapak Sucipto Ardi selaku moderator. Pertemuan ke 17 di Rabu, 10 Februari 2021 ini mengangkat tema “Menembus Tulisan di Penerbit Mayor”. Pemaparan materi kali ini langsung disampaikan oleh  bapak Edi S. Mulyanta, selaku bapak Manager Oprasional Penerbit Andi.

Materi pembelajaran di kelas menulis pertemuan ini, merupakan lanjutan materi dipertemuan sebelumnya. Pemaparan materi yang disampaikan naraumber, masih pada satu titik yang sama. Pembahasannya tentang seluk beluk menerbitkan buku di penerbit mayor. Tentu, yang berperan sebagai narasumber adalah bapak hebat yang telah berkecimpung selama bertahun-tahun di penerbit mayor. Khususnya pada Penerbit Andi Offiside.

Mengawali pemaparan materi pembelajaran, Bapak Edi memberikan pencerahan makna  dari penerbit dan penerbitan, penulis  dan penulisan  serta buku dan naskah buku. Menurut UU No 3 Tahun 2017 tentang system perbukuan yakni

  •    n Penerbit adalah  lembaga pemerintah dan swasta yang menerbitkan buku.
  •   Penerbitan adalah rangkaian proses kegiatan mulai pengeditan, pengilustrasian, hingga pada mendesain buku.
  •        Penulis adalah  orang yang bertindak sebagai penulis naskah buku.
  •        Penulisan adalah penyusunan naskah buku.
  •     Buku adalah karya tulis yang diterbitan berupa cetakan berjilid  atau berupa publikasi di media elektronik.
  •      Naskah buku adalah drap karya tulis  yang memuat bagian awal, isi dan akhir.

Menurut Bapak Edi, sebenarnya tidak ada istilah yang namanya penerbit minor atau mayor. Akan tetapi perbedaan itu hanya terbatas pada seberapa jumlah produksi  buku yang ISBN. Berikut disajikan sebuah skema yang memberikan gambaran tentang golongan penerbit.


Dijelaskan bahwa ISBN Publication Element adalah jumlah produk buku. Semakin besar digitnya maka semakin besar  jumlah kapsitas produksi bukunya. Untuk penerbit Mayor, memiliki rentan digit 3 hingga 4 digit.  Kapasitas produksi dan penjualan dalam hal ini dapat mencapai jumlah tertentu. Melalui jumlah yang besar ini, penerbit dapat mendistribusikan secara merata ke seluruh toko buku secara nasional. Sehingga, dapat dikatakan  penerbitan skala nasional.

Penyebutan ini akhirnya, diadopsi di peraturan-peraturan setelahnya.dalam hal untuk pengukuran indeks. Kemudian, melalui ini penulis-penulis yang tergabung dalam profesi, mengaharuskan untuk melahirkan sebuah tulisan. Tulisan ini dijadikan sebuah persyaratan bagi kenaikan pangkat golongan. Dalam peraturan Permen PAN angka kredit penulisan buku menjadi angka penting dalam kenaikan pangkat.

Tahun 2009 terbitlah peraturan pemerintah No 75 yang mengatur pelaksanaan  UU Perbukuan Nomor 3 Tahun 2017.  Peraturan ini berisikan pembagian jenis-jenis buku yang ditulis oleh penulis. Diantaranya adalah

  • Ø     Buku teks pelajaran,  memiliki angka kredit yang tinggi apalagi jika lolos dalam  BSNP( Badan Standar Nasional Pendidikan)
  • Ø     Buku non teks, berupa buku pengayaan dan buku modul pembelajaran
  • Ø     Buku umum, buku karya fiksi seperti halnya novel.

Lantas, bagaimanakah tipsnya agar karya kita dapat diterbitkan? Bagi saya pribadi, ini adalah pertanyaan yang sangat ditunggu-tunggu jawabannya. Alhamdulillah, Bapak Edi memberikan jawaban dan pencerahaan atas pertanyaan ini. Menurut Bapak Edi, ada beberapa point penting yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai penulis. Agar tulisan kita dapat diterbitkan. Diantaranya yaitu,

  • Ø  Perhatikan  sudut pandang penerbit terhadap calon naskah yang akan terbit. Dalam hal ini lebih kepada unsur market yang dominan.
  • Ø  Sesuaikan bahan naskah yang diterbitkan dengan visi dan misi penerbit, agar naskah dapat diterima.
  • Ø  Tulislah proposal pengajuan naskah  yang akan ditawarkan ke penerbit. Isi proposal adalah judul, sub judul jika ada, synopsis buku, outline, sampel bab(minimal 2 bab), dan CV Penulis.
  • Ø  Berikan penjelasan sasaran pemasaran. Untuk dapat membantu penerbit dalam memandang naskah kita.
  • Ø  Sertakan keungulan naskah buku kita dibandingkan dengan pesaing lain.
  • Ø  Kirimkan naskah buku kebeberapa penerbit. Tapi, pastikan penerbit anggota IKAPI. Agar lebih dihargai dalam penilaian angka kredit yang lebih maksimal.

     Di era pandemi ini, dengan segala kondisi yang ada. Perlu kita sadari bahwa semua yang ada penuh dengan keterbatasan. Bapak Edi pun menyampaikan, bahwa tidak semua buku dapat diterbitkan oleh penerbit. Penerbit Andi sendiri hanya dapat menerbitkan 20-30 persen saja, dari 200 naskah yang masuk ke penerbit. Keterbatasan modal, strategi pemasaran, dan masa pandemic menjadi kendala dalam pendistribusian buku.

    Proses perubahanpun terjadi dalam pendistribusian buku.  Pendistribusian lebih banyak ke ranah digital. Kerjasama pemasaran saat ini dijalin bersama Google Play. Untuk dapat menebus ke pasar digital. Menyikapi hal ini, tentu mau tidak mau. Suka tidak suka, atau bisa tidak bisa kita harus menerima perubahan tersebut. Semoga apa yang tengah terjadi, tidak dapat menjadikan kita  kehilangan semangat dalam berkarya. 

Pesan yang begitu berkesan dari Bapak  Edi Mulayanta di akhir pertemuan adalah

Jangan pernah  putus asa menawarkan tulisan ke penerbit. Penerbitpun membutuhkan karya-karya baru yang dapat memberikan warna baru di dunia menulis. Keuntungan dari penerbitan, sangat membantu penerbit untuk terus bertahan dan tumbuh. Begitupun dengan penulis, ketika tulisan itu dapat diterbitkan, dan dipasarkan. Penulis juga akan terus tumbuh dalam berkarya hingga akhirnya berjaya.

Inti dari pesan Bapak Edi, meminta kita untuk terus semangat. Jika ada lima kali kegagalan . Maka  akan ada delapan langkah kesuksesan. Terus berkarya dan   terus menebar manfaat.

Dwi Rahmiati

MTs Negeri 2 Mukomuko

 

 

Read More

Selasa, 09 Februari 2021

Strategi Jitu Memasarkan Buku

 


        Ketika membaca sebuah tulisan, apakah itu dalam bentuk artikel ataupun dalam bentuk buku. Sering terbesit dalam pikiran saya, kapankah nama saya bisa tertulis di tulisan itu sebagai penulis? Sungguh senang rasanya jika apa yang selama ini saya pikirkan menjadi kenyataan. Namun, bagaimanakah cara untuk mewujudkannya?

Bergabung di grouf menulis ini, ternyata memberikan secercah cahaya bagi saya. Untuk dapat mewujudkan, apa yang menjadi impian saya. Tidak hanya diberikan bekal dan keterampilan dalam menulis. Grouf menulis ini membuka jalan bagi saya untuk dapat menerbitkan tulisan saya.

            Alhamdulillah, kebaikan hati Om Jay dan rekan panitia lainnya. Memberikan kesempatan bagi kami untuk berdiskusi langsung dengan penerbit buku lewat whatssap grouf. Baik itu penerbit indie atau penerbit mayor.

Di pertemuan sebelumnya, panitia telah memberikan  ruang untuk menyimak dan berdiskusi dengan para penerbit indie seperti Pak Brian, Cak Mimin, dan Ibu Kanjeng. Alhamdulillah, dipertemuan ke 16 ini. Panitia kembali  memberikan ruang untuk  peserta menulis, menyimak materi  dan berdiskusi langsung dengan penerbit buku. Kali ini, yang akan berbagi materi adalah dari Penerbit Mayor. Penerbit mayor tersebut adalah Penerbit Andi. Penerbit besar, yang kiprahnya hampir dikenal semua orang. Lewat buku-buku yang telah dilahirkannya dengan sempurna.

Seperti yang telah tertera di poster, tema kelas menulis malam ini adalah “ Teknik Memasarkan Buku”. Saya rasa ini dalah tema unggulan, yang telah dinanti oleh para peserta menulis. Memasarkan buku, merupakan titik akhir dimana buku kita akan bermuara. Malam ini akan di isi langsung oleh Bapak Agus Subardana. Selaku direktur pemasaran penerbit Andi.

Berdasarkan data yang diperoleh, di tengah melesunya berbagai industri akibat pandemi. Justru industri penerbitan buku di pasar global kian bertumbuh. Lantas, bagaimanakah dengan Indonesia? Itulah menjadi pertanyaan untuk kita semua.

            Diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia, yang dikutip dari situs resmi www.ikapi.org. Industri penerbitan nasional berdampak cukup keras dari paparan pandemi ini. Banyak penerbit yang mengalami penurunan omset, lantaran penjualan buku merosot hingga 50%. Meskipun ada beberapa penerbit Indonesia yang justru mengalami pertumbuhan. Termasuk halnya dengan Penerbit Andi, yang Alhamdulillah menurut Bapak  Agus masih bertahan dan tetap tumbuh. Terbukti, di tahun 2021 ini penerbit Andi membuka cabang representative sebanyak 120 titik di kota dan kabupaten Indonesia.

            Dalam rangka mencapai pemasaran buku yang maksimal, dibutuhkan adanya strategi pemasaran yang mumpuni. Strategi pemasaran penjualan buku sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek. Mengapa demikian? Karena banyaknya jenis buku yang diterbitkan. Jenis-jenis buku tersebut dikelompokkan dalam suatu kategori. Seperti halnya dalam penerbit Andi misalnya terdapat 32 jenis kategori  produk buku. Berisikan buku teks, buku anak, buku fiksi, dll. Apabila telah dikategorikan tentu memberikan kemudahan bagi pemetaan dalam pemasaran. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi strategi dalam pemasaran buku, yaitu

*      Faktor mikro diantarnya adalah pesaing, pemasok, perantara dan masyrakat.

*      Faktor makro diantaranya adalah demografi, ekonomi, politik, hukum, teknologi, dan social budaya.

Untuk penerbitan Andi Offiset sendiri, masuk ke dalam ke dua faktor yaitu makro dan mikro. Hal ini dikarenakan penerbit Andi telah mencapai usia 40 tahun penerbitan dengan jumlah buku terbitan hingga 15.000 judul buku dalam 32 kategori.

Saat ini, untuk dapat memasarkan buku secara maksimal di masa pandemi. Ada dua strategi pemasaran yaitu strategi pemasaran buku online dan offline.

  •          Strategi online (pemasaran lewat jalan udara)

   a. Melalui digital marketing

Manfaat dari strategi online ini adalah daya jangkaun lebih luas, lebih mudah untuk berkomunikasi dengan konsumen, cepat untuk berkembang, biaya lebih murah, dan mudah menentuka targer pasaran dengan mudah, lebih cepat popular, dan lain-lain. Untuk strategi ini perlu keaktifan dalam memasarkan, menjaga kestabilan saat kondisi pasar lesu.

b. Melakukan pemasaran lewat komunitas.

  •           Strategi offline  (pemasaran lewat jalur darat)

            Pemasaran ini dapat dilakukan melalui

v  Toko buku. Untuk menarik minat pembeli, biasanya dapat memberikan berupa diskon harga atau hal lain yang menarik. Untuk saat ini, Penerbit Andi telah membuka beberapa jaringan toko buku. Lewat gramedia ataupun non gramedia.

v  Directselling yaitu melakukan pemetaan buku berdasarkan kategoro buku. Dilakukan dengan memberdayakan tenaga sales.

v  Membuka kegiatan-kegiatan workshop, try out, seminar, atau yang lainnya.

Demikianlah strategi dalam memasarkan buku, yang dilakukan oleh PT Andi Offset. Semoga dalam waktu dekat, kita semua dapat melahirkan karya hebat. Karya yang nantinya akan menebus kepasaran. Dapat dinikmati oleh masyarakat, dan tentunya dapat membawa keberkahan.

 

Dwi Rahmiati

MTs Negeri 2 Mukomuko

 

 

Read More