Menjadi
sebuah kebanggaan pernah menjadi bagian dari kampus hijau ini. Kampus sejuk,
asri, dan luas. Empat tahun menapaki jalan pendidikan disini, rasanya sesuatu
sekali. Mulai dari awal mendaftar
menjadi calon mahasiswa hingga mendaftar menjadi calon wisudawan.
Masih
teringat, saat riwehnya regristrasi pendaftaraan calon mahasiswa. Antrian
panjang yang seakaan tak ada putusnya. Dari matahari mulai tersenyum hingga
matahari tertawa lebar. Belum juga
selesai. Ketika sampai pada anteran kita, jreng…jreng.., maaf dek waktunya
istirahat. Waduh rasanya seperti petir
di siang bolong. Seketika lapar di perut makin membuncah. Pusing kepala makin
terasa. Lelah, letih, lunglai, jadi satu. Namun, ditengah capek yang luar
biasa, kembali ingat pesan orang tua. Kalau mau kuliah tak ada kata cengeng.
Tak drama. Kita tak punya banyak uang untuk menguliahkanmu. Seketika juga,
sambil menelan ludah dalam-dalam, semangat kembali terpompa.
Rangkaian
agenda pendaftaran telah dilalui, tinggal menunggu waktu tes. Tak ada bimbel
try out, atau apalah istilah sebelum mengikuti tes. Jika ingin berhasil maka
berusahalah sendiri. Suksesmu kamu yang ciptakan bukan orang lain Akhirnya bermodal soal-soal tes kakak tingkat
terdahulu. Aku berusaha sendiri mencarri jawaban atas soal-soal tersebut.
Lumayan paling tidak sudah punya gambaran. Meskipun dari 100 yang aku kerjakan
hanya bisa menyelasaikan setengahnya. Terpentimg ada ikhtiar yang sudah aku
lakukan. Tak lupa, iktiar langitpun terus aku luncurkan. Berharap Allah memberikan
kesempatan agar aku bisa belajar di bangku kuliah. Seperti halnya teman-teman
sekolahku yang lain.
Di saat waktu ujian tiba, tetap ada
rasa dag dig dug. Jika aku tidak lulus tes di kampus ini. Jelas sudah, aku
harus segera mengubur mimpi-mimpiku untuk bisa belajar di bangku kuliah. Tak akan
ada kesempatan kedua, untuk bisa kuliah di kampus lain. Selain UNIB
satu-satunya kampus umum negeri di kota
ini. Orang tuaku tak cukup biaya untuk menyekolahkanku di kampus swasta. Aku mulai
tes dengan keyakinan, bahwa apapun yang terjadi nanti. Aku sudah berusaha. Aku
yakin Allah tahu yang terbaik dalam hidupku. Aku yakin Allah akan memberikan
apa yang aku butuhkan. Bukan yang aku mau.
Alhamdulillah luar biasa, bermodal
keyakinan dan kepasrahanku kepada Yang Maha Kuasa. Aku lulus seleksi, aku lulus
di jurusan yang bukan aku kehendaki. Menjadi Mahasiswa Pendidikan Bahasa
Indonesia. Aku sebagai yang wanita yang tak puitis harus banyak belajar menjadi
puitis. Rasanya pusing bukan kepalang. Tapi tetap maju untuk menjalani dan
mencintai.
Perjalanan pendidikan di BAHTRA(
Bahasa dan Sastra), tidak hanya memberikan aku ilmu tentang bahasa dan sastra.
Di sana aku juga mulai menemukan hakikat hidup yang sebenarnya. Aku mulai
hijrah. Aku mulai lebih mendekatkan diri kepada
Sang pencipta. Hingga kutemukan jua sahabat-sahabat yang baik hati. Selalu ada saat aku sulit dan terjepit.
Terutama masalah ekonomi dan hati. Lewat mereka aku mulai belajar mandiri.
Mulai belajar bagaimana cara menghasilkan uang sendiri. Mulai berdiri di kaki
sendiri. Karena kiriman setiap bulan dari orang tua semakin sulit aku harapkan.
Kondisi keluarga yang terasa begitu memprihatinkan saat itu, tak bisa aku
berharap dari kiriman.
Tak hanya dikenalkan oleh dua sahabat yang begitu luar biasa. Akupun banyak belajar dari sosok yang menginspirasi. Aku mulai termotivasi dari mereka. Mulai berani mengukir mimpi. Mulai berani mempunyai target kehidupan. Hingga bahkan aku mulai berani untuk melangkah perlahan. Demi terwujudnya apa yang menjadi impiannku.
Di kampus hijau ini juga, aku temukan motto hidup dari penulis buku best seller yakni bermimpilah karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Akupun semakin yakin, untuk lebih banyak mengukir mimpi.
Target selesai kuliah dalam waktu
tercepat, itulah target awal yang aku tuliskan. Tak ingin sebatas target,
sekuat tenaga akupun mulai melangkah. Tak kenal lelah. Tak kenal drama. Meski berat
aku coba untuk mewujudkan wisuda di bulan April tepat tiga tahun delapan bulan kuliah. Berbagai usaha aku
kerahkan, meski harus berjuang sendiri. Aku tak mundur. Bimbingan demi
bimbingan aku jalani, saat teman-teman masih bersantai.
Aku
terus melangkah, tak perduli siang dan malam. Semenitpun aku tak mau
meninggalkan skripsiku. Akhirnya skripsiku
selesai,. Saat hendak sidang. Allah berkehendak lain, pembimbing utamaku sakit.
Harus melakukan kemoterapi. Akhirnya sidang skripssi diundur. Sedih di hati
pasti ada, tapi rasa optimis dalam hati lebih besar. Keyakinan dalam hati kalau
Allah akan memberikan yang dibutuhkan bukan diinginkan. Lantas membuat aku tak patah semangat. Aku
tetap legowo, yang pasti skripsiku selesai. Hingga pada Juli 2011 aku wisuda
juga dengan nilai Alhamdulillah memuaskan meski tak coamloude
Ketika harus menjadi koordiantor
bidang di organisasi prodi, juga
memberikan aku segudang pengalaman. Pengalaman harus bekerja sama dengan para
kakak angkatan, hingga pengalamana bekerja bersama dengan adik angkatan. Aku mulai berani
mengkonsep sebuah acara baru yang sebelumnya belum pernah ada. Membuat agenda
acara tersebut harus mengesankan, dan bisa membangun pandangan yang baik
tentang organisasi tersebut.
Pastinya ilmu dan pengalaman lain yang tak kalah menarik dan luar biasa dari kampus ini, adalah saat harus belajar sabar. Sabar berjalan kaki berkilo dari gedung satu ke gedung yang lain.Terpenting yang tak dapat dilupakan adalah bertemu dan belajar bersama orang hebat. Menempa diri menjadi professional, loyalitas terhadap pekerjaan, hingga tak selalu memikirkan imbalan materi lebih dari apa yang kita lakukan.
Barokallah
kampus tercinta, terukir rapi namamu di dalam hati. Terimakasih untuk kenangan dan segala hal yang
telah kau berikan. Semakin maju, berkualitas, hebat, dan bermartabat. Menjadi
kampus andalan, pencetak generasi negeri cerdas, berdedikasi dan bersinergi.
Dwi
Rahmiati
Guru
MTs Negeri 2 Mukomuko.




0 komentar:
Posting Komentar