Menulis Inspirasi Berbagi motivasi

Senin, 05 April 2021

Dies Natalis UNIB 2021


   

Menjadi sebuah kebanggaan pernah menjadi bagian dari kampus hijau ini. Kampus sejuk, asri, dan luas. Empat tahun menapaki jalan pendidikan disini, rasanya sesuatu sekali.  Mulai dari awal mendaftar menjadi calon mahasiswa hingga mendaftar menjadi calon wisudawan.


Masih teringat, saat riwehnya regristrasi pendaftaraan calon mahasiswa. Antrian panjang yang seakaan tak ada putusnya. Dari matahari mulai tersenyum hingga matahari  tertawa lebar. Belum juga selesai. Ketika sampai pada anteran kita, jreng…jreng.., maaf dek waktunya istirahat.  Waduh rasanya seperti petir di siang bolong. Seketika lapar di perut makin membuncah. Pusing kepala makin terasa. Lelah, letih, lunglai, jadi satu. Namun, ditengah capek yang luar biasa, kembali ingat pesan orang tua. Kalau mau kuliah tak ada kata cengeng. Tak drama. Kita tak punya banyak uang untuk menguliahkanmu. Seketika juga, sambil menelan ludah dalam-dalam,  semangat kembali terpompa.

Rangkaian agenda pendaftaran telah dilalui, tinggal menunggu waktu tes. Tak ada bimbel try out, atau apalah istilah sebelum mengikuti tes. Jika ingin berhasil maka berusahalah sendiri. Suksesmu kamu yang ciptakan bukan orang lain  Akhirnya bermodal soal-soal tes kakak tingkat terdahulu. Aku berusaha sendiri mencarri jawaban atas soal-soal tersebut. Lumayan paling tidak sudah punya gambaran. Meskipun dari 100 yang aku kerjakan hanya bisa menyelasaikan setengahnya. Terpentimg ada ikhtiar yang sudah aku lakukan. Tak lupa, iktiar langitpun terus aku luncurkan. Berharap Allah memberikan kesempatan agar aku bisa belajar di bangku kuliah. Seperti halnya teman-teman sekolahku yang lain.

            Di saat waktu ujian tiba, tetap ada rasa dag dig dug. Jika aku tidak lulus tes di kampus ini. Jelas sudah, aku harus segera mengubur mimpi-mimpiku untuk bisa belajar di bangku kuliah. Tak akan ada kesempatan kedua, untuk bisa kuliah di kampus lain. Selain UNIB satu-satunya kampus umum negeri  di kota ini. Orang tuaku tak cukup biaya untuk menyekolahkanku di kampus swasta. Aku mulai tes dengan keyakinan, bahwa apapun yang terjadi nanti. Aku sudah berusaha. Aku yakin Allah tahu yang terbaik dalam hidupku. Aku yakin Allah akan memberikan apa yang aku butuhkan. Bukan yang aku mau.

          Alhamdulillah luar biasa, bermodal keyakinan dan kepasrahanku kepada Yang Maha Kuasa. Aku lulus seleksi, aku lulus di jurusan yang bukan aku kehendaki. Menjadi Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia. Aku sebagai yang wanita yang tak puitis harus banyak belajar menjadi puitis. Rasanya pusing bukan kepalang. Tapi tetap maju untuk menjalani dan mencintai.



       Perjalanan pendidikan di BAHTRA( Bahasa dan Sastra), tidak hanya memberikan aku ilmu tentang bahasa dan sastra. Di sana aku juga mulai menemukan hakikat hidup yang sebenarnya. Aku mulai hijrah. Aku mulai lebih mendekatkan diri kepada  Sang pencipta. Hingga kutemukan jua sahabat-sahabat yang baik hati.  Selalu ada saat aku sulit dan terjepit. Terutama masalah ekonomi dan hati. Lewat mereka aku mulai belajar mandiri. Mulai belajar bagaimana cara menghasilkan uang sendiri. Mulai berdiri di kaki sendiri. Karena kiriman setiap bulan dari orang tua semakin sulit aku harapkan. Kondisi keluarga yang terasa begitu memprihatinkan saat itu, tak bisa aku berharap dari kiriman.

            Tak hanya dikenalkan oleh dua sahabat yang begitu luar biasa. Akupun banyak belajar dari sosok yang menginspirasi. Aku mulai termotivasi dari mereka. Mulai berani mengukir mimpi. Mulai berani mempunyai target kehidupan. Hingga bahkan aku mulai berani untuk melangkah perlahan. Demi terwujudnya apa yang menjadi impiannku.

      Di kampus hijau ini juga, aku temukan motto hidup dari penulis buku best seller  yakni bermimpilah karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Akupun semakin yakin, untuk lebih banyak mengukir mimpi.

         Target selesai kuliah dalam waktu tercepat, itulah target awal yang aku tuliskan. Tak ingin sebatas target, sekuat tenaga akupun mulai melangkah. Tak kenal lelah. Tak kenal drama. Meski berat aku coba untuk mewujudkan wisuda di bulan April tepat tiga tahun  delapan bulan kuliah. Berbagai usaha aku kerahkan, meski harus berjuang sendiri. Aku tak mundur. Bimbingan demi bimbingan aku jalani, saat teman-teman masih bersantai.

Aku terus melangkah, tak perduli siang dan malam. Semenitpun aku tak mau meninggalkan skripsiku.  Akhirnya skripsiku selesai,. Saat hendak sidang. Allah berkehendak lain, pembimbing utamaku sakit. Harus melakukan kemoterapi. Akhirnya sidang skripssi diundur. Sedih di hati pasti ada, tapi rasa optimis dalam hati lebih besar. Keyakinan dalam hati kalau Allah akan memberikan yang dibutuhkan bukan diinginkan.  Lantas membuat aku tak patah semangat. Aku tetap legowo, yang pasti skripsiku selesai. Hingga pada Juli 2011 aku wisuda juga dengan nilai Alhamdulillah memuaskan meski tak coamloude

      Ketika harus menjadi koordiantor bidang di organisasi prodi,  juga memberikan aku segudang pengalaman. Pengalaman harus bekerja sama dengan para kakak angkatan, hingga pengalamana bekerja bersama  dengan adik angkatan. Aku mulai berani mengkonsep sebuah acara baru yang sebelumnya belum pernah ada. Membuat agenda acara tersebut harus mengesankan, dan bisa membangun pandangan yang baik tentang organisasi tersebut.

          Pastinya ilmu dan pengalaman lain yang tak kalah menarik dan luar biasa dari kampus ini, adalah saat harus  belajar sabar. Sabar berjalan  kaki berkilo dari gedung satu ke gedung yang lain.Terpenting yang tak dapat dilupakan adalah bertemu dan belajar bersama orang hebat. Menempa diri menjadi professional, loyalitas terhadap pekerjaan, hingga tak selalu memikirkan imbalan materi lebih dari apa yang kita lakukan.

Barokallah kampus tercinta, terukir rapi namamu di dalam hati.  Terimakasih untuk kenangan dan segala hal yang telah kau berikan. Semakin maju, berkualitas, hebat, dan bermartabat. Menjadi kampus andalan, pencetak generasi negeri cerdas, berdedikasi dan bersinergi.

 

Dwi Rahmiati

Guru MTs Negeri 2 Mukomuko.

0 komentar:

Posting Komentar