Menulis Inspirasi Berbagi motivasi

Senin, 01 Maret 2021

Menulis Buku Non Fiksi Dalam Waktu 7 Hari


Tidak ada manusia yang hidup abadi. Namun, manusia punya cara untuk dapat terus abadi. Seperti halnya yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer,

“Orang boleh pandai  setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang, di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Maka dapat kita simpulkan, bahwa ketika kita ingin hidup abadi mulai dengan menulis.

Pertemuan menulis edisi ke 21 ini, memberikan secercah cahaya kepada kita untuk menjawab tantangan dari Prof. Eko. Menulis buku kolaborasi dalam  waktu satu minggu. Menulis dalam waktu satu minggu memang bukanlah hal yang gampang. Apalagi untuk kita sang penulis pemula. Berhari-hari kita buka tutup chanel you tobe milik Prof Eko. Menemukan ide apa yang cocok untuk kita angkat ke dalam tulisan kita, hingga  bisa menjadi sebuah buku. Bingung sekali ide apa yang harus dipilih. Ketika kita memilih satu ide, artinya kita harus mampu mengembangkan ide tersebut ke dalam TOC/ kerangka tulisan.

Di pertemuan menulis ke 21 ini, hadir kembali alumni dari gelombang menulis angkatan 8. Beliau adalah Ibu Iin dengan nama lengkapnya adalah  Ibu Suiin. Ibu Iin merupakan  salah satu alumni yang telah berhasil menaklukkan tantangan menulis dari Prof Eko. Dalam waktu satu minggu. Buku kolaborasi beliau bersama Prof Eko, saat ini telah berbaris cantik diantara buku keren lainnya di toko buku besar di negeri ini. Baik itu online ataupun secara ofline. Toko buku besar itu adalah Gramedia Pustaka.  Judul buku beliau adalah  Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi.




Menurut Bu Iin, dalam tantangan menulis ini. Prof Eko diibaratkan sebagai seorang  Master Chep. Memberikan kita banyak bahan masakan yang dapat kita olah ke dalam berbagai jenis hindangan masakan.  Bahan-bahan yang kita butuhkan untuk memasak tulisan itu, telah Prof Eko sajikan dalam chanel ekodjinya.

Semua pilihan bahan yang akan diolah menjadi tulisan,  ada di tangan kita. Silahkan kita mulai menulis dari apa yang kita sukai, kita cintai dan kita kuasai. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan merupakan bentuk isi buku yang ada dalam diri kita. Harus dapat kita keluarkan menjadi wujud nyata dalam bentuk karya yang dapat dinikmati oleh orang lain.  Namun tetap kembali lagi pada diri kita sendiri. Apakah potensi itu mau kita keluarkan dalam buku, atau hanya dikeluarkan dalam bentuk bahan ajar di sebuah kelas, ataupun hanya kita keluarkan sebatas obrolan saja. Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa ketika kita memutuskan untuk mengeluarkannya dalam bentuk obralan. Maka semua akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Menulis memanglah bukan keterampilan yang mudah. Menulis tidaklah semudah berbicara, apalagi semudah bergosip. Namun karena, menulis itu sulit maka memberikan tantangan tersendiri. Melewati proses dalam menulis, seperti mengikuti kelas, membuat resume, dan menulis buku. Perlahan-lahan, akan menimbulkan rasa cinta di hati kita terhadap menulis.

Ada beberapa pola yang perlu yang perlu kita ketahui saat kita menulis buku non fiksi, diantaranya adalah

1.      Pola hierarkis (buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit)

2.      Buku procedural (buku yang disusun berdasarkan tahapan proses)

3.      Pola klaster ( buku disusun secara point per point)

Untuk Bu Iin sendiri dalam bukunya digital letarasi, menggunakan pola penulisan klaster. Dalam proses penulisan buku ini memiliki tahapan yakni 

  • 1.      Pratulis terdiri dari

a.       Menentukan tema

b.      Menemukan ide

c.       Merencanakan jenis tulisan

d.      Mengumpulkan bahan tulisan

e.       Bertukar pikiran

f.       Menyusun Draf

g.      Meriset

h.      Membuat mind mapping

i.        Menyusun kerangka

  •          Menulis draf
  •           Merevisi draf
  •           Menyunting naskah
  •       Menerbitkan

Menurut Bu Iin dalam menulis ada juga beberapa hambatan yang kita alami diantaranya adalah

  • Hambatan waktu
  • Hambatan kreativitas
  • Hambatan teknis
  • Hambatan tujuan
  • Hambatan psikologi

Diantara hambatan yang ada, yang paling berat adalah hambatan psikologi. Hal ini dikarenakan berkaitan dengan deadlinenya penulisan. Namun tetap saja rasa optimis harus ada, ketika hambatan hadir tentu akan hadir juga solusi mengatasi hambatan tersebut.

1.      Banyak membaca

2.      Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan  narasumber.

3.      Displin menulis setiap hari

 

Sebagai bahan referensi kita dalam menulis kerangka, berikut contoh kerangka dari buku Literasi Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi karya Bu Iin.

BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

A.    Pembagian Generasi Pengguna Internet

B.     Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

A. Media Sosial

B. UU ITE

C. Kejahatan di Media Sosial

BAB 3 Literasi Digital

A.    Pengertian

B.     Elemen

C.     Pengembangan

D.    Kerangka Literasi Digital

E.     Level Kompetensi Literasi Digital

F.      Manfaat

G.    Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Generasi

H.    Kewargaan Digital

BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara

A.    Keluarga

B.     Sekolah

C.     Masyarakat

BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia

B. Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia

C. Membangun Digital Mindset Warganet +62

 Dwi Rahmiati

Guru MTs Negeri 2 Mukomuko Bengkulu

 

 

0 komentar:

Posting Komentar