Semburat cahaya pagi, menerawang
Menerobos bilik kecil berjendela
Bangunlah pemudiku
Pasarmu riuh dengan keramaian
Bawangmu tak ingin tanpa ikan di panci
Jago kampung sudah berkokok lantamg
Bangunlah pemudaku
Suraumu masih sepi
Kumandangkan azanmu
Teriakkan kemenanganmu
Kemenangan bangsamu
Memintahlah kepada Yang Agung
Rahmat dan berkah hidupmu
Kemuliaan dunia dan kejayaan bangsamu
Waktu tak bisa terulang
Kesempatan jangan terlewatkan
Setiap keringat akan berharga
Dan keinginan akan terwujud
Bila kesungguhan dan sabar menjadi rekanmu
Isilah negeri ini dengan kerjamu
Bangunlah bangsamu
Dengan kebersamaan
Hati yang tulus tak akan berdusta
Negeri tak akan rela
Bila kejujuran dikhianati
Setiap jengkal tanah akan murka
Bila kebaikan selalu diabaikan
Dan keserakahan menjadi mahkota
Bagi para penguasa yang haus akan kuasa.
Rasanya
sudah lama sekali, tidak menulis di blog. Di pertengahan Agustus ini, diri coba
untuk kembali menumbuhkan semangat dalam menulis. Karena sejatinya, tidak ada
alasan untuk tidak bisa. Terpenting adalah mau atau tidaknya kita untuk memulai
dan mempertahankan semangat. Agar terus konsisten.
Tetap
berada di grouf komunitas menulis. Memantau dan bertamasya di blog keren para
sahabat blogger. Membuat saya banyak menemukan inspirasi dalam menulis. Tinggal
menuangkan saja, ide menulis dalam tulisan di blog.
Hari
ini, sudah hari ketiga saya demam. Badan panas, mulut pahit, dan kepala terasa
pusing. Tapi penciuman Alhamdulillah masih ada. Bahkan ketika mencium aroma
nasi, seketika perut teras mual dan muntah. Tapi, saya coba belajar untuk
menikmati dulu rasa sakit ini. Sebagai penggugur dosa. Yang terpenting, saya
terus konsumsi vitamin, madu, dan air putih hangat. Agar daya tahan tubuh tetap
kuat.
Berbaring
di tempat tidur, rasanya sudah capek banget. Tapi kalau untuk melakukan
aktivitas lain, tubuh masih lemas. Badan terasa gemetar. Akhirnya saya putuskan
hari ini untuk tidak berangkat kesekolah dulu. Sampai badan terasa agak
pulihan. Apalagi saat ini, kondisi kita sedang pandemi.
Tiba-tiba,
ketika mata tak bisa terpejamkan kembali. Kok Keluar, ide ingin menulis. Kok
keluar, semangat ingin menulis di blog.
Tapi, siang ini lampu mati. Jadi, sinyal pasti hilang. Artinya, saya
tidak bisa membuka blog. Tapi tidak masalah, mumpung ide lagi keluar, saya
harus menuliskankannya dalam bentuk word dulu. Nanti tinggal dipindahkan ke
dalam blog. Semoga dengan menulis ini, bisa membuat kejenuhan di rumah
terobati. Saya cepat sehat, dan beraktifitas kembali. Kasihan juga, anak-anak
harus terabaikan kalau sang bunda sakit. Kata suami saya, rumah sepi sekali
bunda. Ayo cepat sehat…
Alhamdulillah
selesai, cukup ini dulu yang ditulis. Sederhana sekali memang. Tapi tidak apa-apa
kan sahabat blogger? Kepala cenad-cenud pisan. Mohon maaf, saya berbaring
kembali…
Percaya atau tidak percaya, kita memang harus percaya. Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin terjadi jika Allah menghendaki. Manusia memang tak dapat merubah takdir kematian yang telah ditentukan. Namun, manusia memiliki kemampuan untuk menentukan takdir masa depan.
Semua bermula dari mimpi, mimpi menjadi pelecut semangat terhebat yang kita miliki. Ketika kita memiliki sebuah impian besar, maka sungguh kitapun akan berusaha lebih besar lagi dalam mewujudkannya. Seperti yang dikatakan mas Adrea Hirata, sang penulis tetralogi Laskar Pelangi. Dalam buku Sang Pemimpi, yang masih selalu saya ingat hingga sekarang adalah ketika dalam rangkaian katanya, Andrea mengatakan bahwa Bermimpilah Kamu, karena Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu. Sejak saat ini, saya semakin semangat untuk bermimpi. Keyakinan dalam hati inipun semakin kuat, jika tiba massanya mimpi-mimpi saya akan terwujud.
Dulu ketika membaca buku, para pengarang hebat. Seringkali terbesit dalam hati dan pikiran. Kapan ya, nama saya terukir sebagai nama penulis buku. Mulailah membangun mimpi, menuliskan dalam sebuah catatan. Saya ingin menjadi penulis legend, meski kehidupan saya telah berakhir namun karya saya harus tetap ada. Tetapi eksis di belantika pendidikan.😇😇
Melewati rangkaian proses belajar. Berjalan perlahan dalam fase metramorfosis, dengan keyakinan yang kuat. Bahwa saya harus, membuktikan bahwasanya mimpi tak hanya sekedar mimipi. Tahun ini juga saya harus louncing sebuah buku. Buku yang dapat memberikan warna dan inspirasi dalam dunia pendidikan. Menempatkan posisi saya sebagai seorang pendidik.
Menjadi pendidik, tidaklah semudah menjadi pengajar. Sebagai seorang guru, saya bukan hanya mengajari siswa materi, tapi terpenting adalah harus bisa mendidik. Bagaimana seorang guru, harus selalu belajar dalam mengajar? Hingga mampu, selalu siap menuangkan air segar pelepas dahaga bagi siswa.
Pandemi memberikan banyak arti dalam kehidupan ini. Memberikan corak warna berbeda-beda dalam setiap sesinya. Suka dan duka dalam pandemi hadir dengan porsi berbeda, namun sebenarnya sama. Bergantung dengan kita bagaimana memandang dan menyikapinya.
Menjadi
sebuah kebanggaan pernah menjadi bagian dari kampus hijau ini. Kampus sejuk,
asri, dan luas. Empat tahun menapaki jalan pendidikan disini, rasanya sesuatu
sekali. Mulai dari awal mendaftar
menjadi calon mahasiswa hingga mendaftar menjadi calon wisudawan.
Masih
teringat, saat riwehnya regristrasi pendaftaraan calon mahasiswa. Antrian
panjang yang seakaan tak ada putusnya. Dari matahari mulai tersenyum hingga
matahari tertawa lebar. Belum juga
selesai. Ketika sampai pada anteran kita, jreng…jreng.., maaf dek waktunya
istirahat. Waduh rasanya seperti petir
di siang bolong. Seketika lapar di perut makin membuncah. Pusing kepala makin
terasa. Lelah, letih, lunglai, jadi satu. Namun, ditengah capek yang luar
biasa, kembali ingat pesan orang tua. Kalau mau kuliah tak ada kata cengeng.
Tak drama. Kita tak punya banyak uang untuk menguliahkanmu. Seketika juga,
sambil menelan ludah dalam-dalam, semangat kembali terpompa.
Rangkaian
agenda pendaftaran telah dilalui, tinggal menunggu waktu tes. Tak ada bimbel
try out, atau apalah istilah sebelum mengikuti tes. Jika ingin berhasil maka
berusahalah sendiri. Suksesmu kamu yang ciptakan bukan orang lain Akhirnya bermodal soal-soal tes kakak tingkat
terdahulu. Aku berusaha sendiri mencarri jawaban atas soal-soal tersebut.
Lumayan paling tidak sudah punya gambaran. Meskipun dari 100 yang aku kerjakan
hanya bisa menyelasaikan setengahnya. Terpentimg ada ikhtiar yang sudah aku
lakukan. Tak lupa, iktiar langitpun terus aku luncurkan. Berharap Allah memberikan
kesempatan agar aku bisa belajar di bangku kuliah. Seperti halnya teman-teman
sekolahku yang lain.
Di saat waktu ujian tiba, tetap ada
rasa dag dig dug. Jika aku tidak lulus tes di kampus ini. Jelas sudah, aku
harus segera mengubur mimpi-mimpiku untuk bisa belajar di bangku kuliah. Tak akan
ada kesempatan kedua, untuk bisa kuliah di kampus lain. Selain UNIB
satu-satunya kampus umum negeri di kota
ini. Orang tuaku tak cukup biaya untuk menyekolahkanku di kampus swasta. Aku mulai
tes dengan keyakinan, bahwa apapun yang terjadi nanti. Aku sudah berusaha. Aku
yakin Allah tahu yang terbaik dalam hidupku. Aku yakin Allah akan memberikan
apa yang aku butuhkan. Bukan yang aku mau.
Alhamdulillah luar biasa, bermodal
keyakinan dan kepasrahanku kepada Yang Maha Kuasa. Aku lulus seleksi, aku lulus
di jurusan yang bukan aku kehendaki. Menjadi Mahasiswa Pendidikan Bahasa
Indonesia. Aku sebagai yang wanita yang tak puitis harus banyak belajar menjadi
puitis. Rasanya pusing bukan kepalang. Tapi tetap maju untuk menjalani dan
mencintai.
Perjalanan pendidikan di BAHTRA(
Bahasa dan Sastra), tidak hanya memberikan aku ilmu tentang bahasa dan sastra.
Di sana aku juga mulai menemukan hakikat hidup yang sebenarnya. Aku mulai
hijrah. Aku mulai lebih mendekatkan diri kepada
Sang pencipta. Hingga kutemukan jua sahabat-sahabat yang baik hati. Selalu ada saat aku sulit dan terjepit.
Terutama masalah ekonomi dan hati. Lewat mereka aku mulai belajar mandiri.
Mulai belajar bagaimana cara menghasilkan uang sendiri. Mulai berdiri di kaki
sendiri. Karena kiriman setiap bulan dari orang tua semakin sulit aku harapkan.
Kondisi keluarga yang terasa begitu memprihatinkan saat itu, tak bisa aku
berharap dari kiriman.
Tak hanya dikenalkan oleh dua sahabat yang begitu luar biasa. Akupun banyak belajar dari sosok yang menginspirasi. Aku mulai termotivasi dari mereka. Mulai berani mengukir mimpi. Mulai berani mempunyai target kehidupan. Hingga bahkan aku mulai berani untuk melangkah perlahan. Demi terwujudnya apa yang menjadi impiannku.
Di kampus hijau ini juga, aku temukan motto hidup dari penulis buku best seller yakni bermimpilah karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Akupun semakin yakin, untuk lebih banyak mengukir mimpi.
Target selesai kuliah dalam waktu
tercepat, itulah target awal yang aku tuliskan. Tak ingin sebatas target,
sekuat tenaga akupun mulai melangkah. Tak kenal lelah. Tak kenal drama. Meski berat
aku coba untuk mewujudkan wisuda di bulan April tepat tiga tahun delapan bulan kuliah. Berbagai usaha aku
kerahkan, meski harus berjuang sendiri. Aku tak mundur. Bimbingan demi
bimbingan aku jalani, saat teman-teman masih bersantai.
Aku
terus melangkah, tak perduli siang dan malam. Semenitpun aku tak mau
meninggalkan skripsiku. Akhirnya skripsiku
selesai,. Saat hendak sidang. Allah berkehendak lain, pembimbing utamaku sakit.
Harus melakukan kemoterapi. Akhirnya sidang skripssi diundur. Sedih di hati
pasti ada, tapi rasa optimis dalam hati lebih besar. Keyakinan dalam hati kalau
Allah akan memberikan yang dibutuhkan bukan diinginkan. Lantas membuat aku tak patah semangat. Aku
tetap legowo, yang pasti skripsiku selesai. Hingga pada Juli 2011 aku wisuda
juga dengan nilai Alhamdulillah memuaskan meski tak coamloude
Ketika harus menjadi koordiantor
bidang di organisasi prodi, juga
memberikan aku segudang pengalaman. Pengalaman harus bekerja sama dengan para
kakak angkatan, hingga pengalamana bekerja bersama dengan adik angkatan. Aku mulai berani
mengkonsep sebuah acara baru yang sebelumnya belum pernah ada. Membuat agenda
acara tersebut harus mengesankan, dan bisa membangun pandangan yang baik
tentang organisasi tersebut.
Pastinya ilmu dan pengalaman lain yang tak kalah menarik dan luar biasa dari kampus ini, adalah saat harus belajar sabar. Sabar berjalan kaki berkilo dari gedung satu ke gedung yang lain.Terpenting yang tak dapat dilupakan adalah bertemu dan belajar bersama orang hebat. Menempa diri menjadi professional, loyalitas terhadap pekerjaan, hingga tak selalu memikirkan imbalan materi lebih dari apa yang kita lakukan.
Barokallah
kampus tercinta, terukir rapi namamu di dalam hati. Terimakasih untuk kenangan dan segala hal yang
telah kau berikan. Semakin maju, berkualitas, hebat, dan bermartabat. Menjadi
kampus andalan, pencetak generasi negeri cerdas, berdedikasi dan bersinergi.
Dwi
Rahmiati
Guru
MTs Negeri 2 Mukomuko.
Tidak
ada manusia yang hidup abadi. Namun, manusia punya cara untuk dapat terus
abadi. Seperti halnya yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer,
“Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi
selama ia tidak menulis ia akan hilang, di dalam masyarakat dan sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
Maka
dapat kita simpulkan, bahwa ketika kita ingin hidup abadi mulai dengan menulis.
Pertemuan
menulis edisi ke 21 ini, memberikan secercah cahaya kepada kita untuk menjawab
tantangan dari Prof. Eko. Menulis buku kolaborasi dalam waktu satu minggu. Menulis dalam waktu satu
minggu memang bukanlah hal yang gampang. Apalagi untuk kita sang penulis
pemula. Berhari-hari kita buka tutup chanel you tobe milik Prof Eko. Menemukan ide apa yang cocok untuk kita
angkat ke dalam tulisan kita, hingga bisa menjadi sebuah buku. Bingung sekali ide
apa yang harus dipilih. Ketika kita memilih satu ide, artinya kita harus
mampu mengembangkan ide tersebut ke dalam TOC/ kerangka tulisan.
Di
pertemuan menulis ke 21 ini, hadir kembali alumni dari gelombang menulis
angkatan 8. Beliau adalah Ibu Iin dengan nama lengkapnya adalah Ibu Suiin. Ibu Iin merupakan salah satu alumni
yang telah berhasil menaklukkan tantangan menulis dari Prof Eko. Dalam waktu
satu minggu. Buku kolaborasi beliau bersama Prof Eko, saat ini telah berbaris
cantik diantara buku keren lainnya di toko buku besar di negeri ini. Baik itu
online ataupun secara ofline. Toko buku besar itu adalah Gramedia Pustaka. Judul buku
beliau adalah Literasi Digital
Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi.
Menurut
Bu Iin, dalam tantangan menulis ini. Prof Eko diibaratkan sebagai seorang Master Chep. Memberikan kita banyak bahan
masakan yang dapat kita olah ke dalam berbagai jenis hindangan masakan. Bahan-bahan yang kita butuhkan untuk memasak
tulisan itu, telah Prof Eko sajikan dalam chanel ekodjinya.
Semua
pilihan bahan yang akan diolah menjadi tulisan, ada di tangan kita. Silahkan kita mulai
menulis dari apa yang kita sukai, kita cintai dan kita kuasai. Pengetahuan,
pengalaman, dan keterampilan merupakan bentuk isi buku yang ada dalam diri
kita. Harus dapat kita keluarkan menjadi wujud nyata dalam bentuk karya yang
dapat dinikmati oleh orang lain. Namun
tetap kembali lagi pada diri kita sendiri. Apakah potensi itu mau kita
keluarkan dalam buku, atau hanya dikeluarkan dalam bentuk bahan ajar di sebuah
kelas, ataupun hanya kita keluarkan sebatas obrolan saja. Akan tetapi, perlu
kita ingat bahwa ketika kita memutuskan untuk mengeluarkannya dalam bentuk
obralan. Maka semua akan hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.
Menulis
memanglah bukan keterampilan yang mudah. Menulis tidaklah semudah berbicara,
apalagi semudah bergosip. Namun karena, menulis itu sulit maka memberikan
tantangan tersendiri. Melewati proses dalam menulis, seperti mengikuti kelas,
membuat resume, dan menulis buku. Perlahan-lahan, akan menimbulkan rasa cinta
di hati kita terhadap menulis.
Ada
beberapa pola yang perlu yang perlu kita ketahui saat kita menulis buku non
fiksi, diantaranya adalah
1. Pola
hierarkis (buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari
sederhana ke rumit)
2. Buku
procedural (buku yang disusun berdasarkan tahapan proses)
3. Pola
klaster ( buku disusun secara point per point)
Untuk Bu Iin sendiri dalam bukunya digital letarasi, menggunakan pola penulisan klaster. Dalam proses penulisan buku ini memiliki tahapan yakni
a. Menentukan
tema
b. Menemukan
ide
c. Merencanakan
jenis tulisan
d. Mengumpulkan
bahan tulisan
e. Bertukar
pikiran
f. Menyusun
Draf
g. Meriset
h. Membuat
mind mapping
i.
Menyusun kerangka
Menurut Bu Iin dalam menulis ada juga beberapa hambatan yang kita alami diantaranya adalah
Diantara
hambatan yang ada, yang paling berat adalah hambatan psikologi. Hal ini
dikarenakan berkaitan dengan deadlinenya penulisan. Namun tetap saja rasa
optimis harus ada, ketika hambatan hadir tentu akan hadir juga solusi mengatasi
hambatan tersebut.
1. Banyak
membaca
2.
Mencari inspirasi di lingkungan sekitar,
orang sekitar atau terkait dengan narasumber.
3.
Displin menulis setiap hari
Sebagai bahan referensi
kita dalam menulis kerangka, berikut contoh kerangka dari buku Literasi
Digital Nusantara, Meningkatkan Daya Saing Generasi karya Bu Iin.
BAB 1 Penggunaan Internet Di
Indonesia
A. Pembagian Generasi Pengguna
Internet
B. Karakteristik Generasi
Dalam Berinternet
BAB 2 Media Sosial
A. Media Sosial
B. UU ITE
C. Kejahatan di Media Sosial
BAB 3 Literasi Digital
A. Pengertian
B. Elemen
C. Pengembangan
D. Kerangka Literasi Digital
E. Level Kompetensi Literasi
Digital
F. Manfaat
G. Penerapan Literasi Digital
Pada Lintas Generasi
H. Kewargaan Digital
BAB 4 Ekosistem Literasi
Digital Di Nusantara
A. Keluarga
B. Sekolah
C. Masyarakat
BAB 5 Literasi Digital Untuk
Membangun Digital Mindset Warganet +62
A. Perkembangan
Gerakan Literasi Digital Di Indonesia
B. Literasi
Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia
C. Membangun
Digital Mindset Warganet +62
Dwi Rahmiati
Guru MTs Negeri 2 Mukomuko Bengkulu
Bahkan
moderator handal, yakni Bunda Aam Nurhasanah. Merupakan salah satu alumni yang
berhasil mewujudkan impiannya. Berhasil menebus penerbit mayor bersama bapak
professor. Bapak professor ini adalah Professor Richardius Eko Indrajit.
Beliau
adalah seorang akademisi dan pakar teknologi informatika. Lahir di Jakarta 24
Januari 1969. Dengan segudang prestasi yang tak diragukan. Banyak karya hebat
yang telah membahana tidak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri. Menempuh program pendidikan di berbagai
universitas luar negeri. Telah mengantarkan professor menduduki berbagai
jabatan penting. Hingga pernah menjadi staff khusus menpora. Masya Allah,
sungguh pencapaian prestasi yang luar biasa. Dalam hati saya bershalawat,
semoga kesuksesan prof dapat tertular kepada saya. Hidup ini terasa lebih
berarti jika telah memberikan manfaat bagi orang lain. Untuk lebih mengenal
sosok Professor Ricahardus Eko Indrajit, maka kita dapat mengunjungi situs http://id.wikipedia.org/wiki/Richardus_Eko_Indrajit.
Malam
ini, ada paparan yang special dari Prof Ekodji. Saat menuliskan paparan materi,
Prof Eko menuliskan angka dari setiap materinya. Mulai dari satu hingga tiga
puluh. Materi pembalajaran yang disampaikan begitu unik. Bahasanya sederhana,
namun mudah dicerna.
Menelusuri
jejak beliau, dalam menghasilkan tulisan hebat dalam waktu kilat. Tema menulis malam
ini pun adalah Kiat Menulis Buku dalam Waktu Seminggu. Menulis. Terkesan sangat
berat, lebih berat daripada harus merindu.
Sebagai
manusia, seringkali kita menjalin komunikasi dengan cara bercerita. Bercerita
apa saja yang dapat kita ceritakan. Ketika telah bercerita, maka seakan bahan
cerita kita mengalir begitu saja. Kegiatan bercerita yang kita lakukan tentu
akan berlansung setiap hari. Mulai dari kegiatan kita. Pekerjaan kita.
Kebersamaan dengan keluarga, serta banyak hal-hal lainnya.
Konsep
dalam menulis adalah sederhana, saat apa yang kita ceritakan kita tuangkan
dalam tulisan. Maka dapat kita bayangkan berapa lembarkah tulisan yang telah
kita buat. Misalkan, ada diantara kita yang betah untuk bercerita. Bahkan telah
manghabiskan waktu kurang lebih satu jam ataupun lebih untuk bercerita. Namun
kali ini konsep bercerita kita lewat mulut. Kita ubah menjadi via tulisan. Ini adalah salah satu cara agar dapat tembus menulis buku dalam
waktu seminggu. Berikut ada beberapa hal penting, yang dapat kita lakukan untuk dapat menulis
buku dalam waktu seminggu.
1. Pilihlah
satu topik yang disukai dan kuasai. Jangan ceritakan ke orang lain lewat obrolan tapi sampaikan
lewat tulisan
2. Lakukan
kegiatan menulis tanpa harus menunggu.
3. Belajar
untuk komitmen dan konsisten dalam menulis. Jadikan menulis sebagai pembiasaan
diri. Saat kita kehilangan ini, Prof
menyampaikan bahwa ia pernah memaksa dirinya. Hingga akhirnnya berkhayal dan
menghasilkan tulisan.
4. Menulislah
tidak hanya semata untuk publikasi tapi menulislah dengan hati. Agar kita
bahagia, sesibuk apapun kita. Menulis tidak akan membuat kita menjadi lelah,
karena kita melakukan dengan bahagia.
5. Saat
kita membutuhkan waktu luang dalam menulis, kita harus komunikasikan dengan
keluarga. Agar apa yang kita lakukan dapat dikerjakan dengan senang, tanpa ada
hambatan dan tanpa ada yang kurang nyaman dengan kegiatan kita.
Quote
Note dari Prof Ekodji yang begitu memukau adalah harimau mati meninggalkan belang,
gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, sejak dulu
nenek moyang kita mengingatkan agar kita menulis. Untuk hidup kita seribu tahun
lagi.
Saat
kita bukan siapa-siapa di dunia ini, maka menulislah. Hingga kebermanfaatan
kita untuk dunia akan terus abadi selamanya.
#semangatmenulisbukudalamsatuminggu
#akubisapastibisa
Dwi
rahmiati (Guru MTs Negeri 2 Mukomuko)