Ibuku
aku tahu
Engkau sedang berduka
Dukamu begitu dalam
Pedih, perih...
Itulah yang kau rasa
Ibuku...
Pagi, siang, dan malam
Tak henti kau tumpahkan air mata
Air mata yang mungkin tak dapat lagi
Kau bendung.
Meski ku tahu
Tlah lama kau coba
Menahan pedih dan perih ini
Ibuku
Aku rindu senyummu
Senyum yang selalu kau torehkan
Setiap engkau melihat anak-anakmu
Tumbuh dalam kebersamaan
Dalam cinta dan kasih
Ibuku...
Slalu kuingat pesanmu
Meski kita dilahirkan dalam satu rahimmu
Tapi kita bukanlah satu kepala
Kita tidak mungkin akan selalu sama
Namun tatkala kita sedang berbeda
Ingatlah bahwa kita adalah satu
Satu ikatan yang tak mungkin mampu berdiri jika tidak saling mengerti
Ibuku...
Aku tahu...
Begitu berat cobaan ini
Blum tuntas ribuan nyawa meregang karena korona,
Kali ini, kau harus menyakasikan putra-putramu tak lagi dapat bersama
Tak lagi mereka mengingat pesanmu
Bahkan entah mengapa tak lagi mereka takut akan dosa
Ego dan keangkuhan merasuk dalam jiwa
Perbedaan menjadi malapetaka
Hingga nyawa tak berdosa
Menjadi taruhannya.
Ya Allah...
Ampunilah kami...
Lindungilah ibu pertiwi kami
Berikankah ia kekuatan.
Hadirkan kembali senyumnya.
Kami sungguh merindukannya...