Menulis Inspirasi Berbagi motivasi

Jumat, 12 Februari 2021

Strategi Menembus Tulisan di Penerbit Mayor

 


        Memasuki pertemuan ke 17 di kelas menulis, gelombang 17. Memberikan warna yang berbeda dari pertemuan sebelumnya. Pemaparan materi dari narsumber semakin padat dan menggigit. Sungguh sayang sekali jika harus dilewatkan.

Pertemuan ini, merupakan pertemuan yang sangat dinanti. Berbagai pertanyaan dan rasa penasaran kita tentang bagaimanakah caranya karya kita dapat tembus, ke penerbit impian? Akan terjawab sudah. Ditemani oleh bapak Sucipto Ardi selaku moderator. Pertemuan ke 17 di Rabu, 10 Februari 2021 ini mengangkat tema “Menembus Tulisan di Penerbit Mayor”. Pemaparan materi kali ini langsung disampaikan oleh  bapak Edi S. Mulyanta, selaku bapak Manager Oprasional Penerbit Andi.

Materi pembelajaran di kelas menulis pertemuan ini, merupakan lanjutan materi dipertemuan sebelumnya. Pemaparan materi yang disampaikan naraumber, masih pada satu titik yang sama. Pembahasannya tentang seluk beluk menerbitkan buku di penerbit mayor. Tentu, yang berperan sebagai narasumber adalah bapak hebat yang telah berkecimpung selama bertahun-tahun di penerbit mayor. Khususnya pada Penerbit Andi Offiside.

Mengawali pemaparan materi pembelajaran, Bapak Edi memberikan pencerahan makna  dari penerbit dan penerbitan, penulis  dan penulisan  serta buku dan naskah buku. Menurut UU No 3 Tahun 2017 tentang system perbukuan yakni

  •    n Penerbit adalah  lembaga pemerintah dan swasta yang menerbitkan buku.
  •   Penerbitan adalah rangkaian proses kegiatan mulai pengeditan, pengilustrasian, hingga pada mendesain buku.
  •        Penulis adalah  orang yang bertindak sebagai penulis naskah buku.
  •        Penulisan adalah penyusunan naskah buku.
  •     Buku adalah karya tulis yang diterbitan berupa cetakan berjilid  atau berupa publikasi di media elektronik.
  •      Naskah buku adalah drap karya tulis  yang memuat bagian awal, isi dan akhir.

Menurut Bapak Edi, sebenarnya tidak ada istilah yang namanya penerbit minor atau mayor. Akan tetapi perbedaan itu hanya terbatas pada seberapa jumlah produksi  buku yang ISBN. Berikut disajikan sebuah skema yang memberikan gambaran tentang golongan penerbit.


Dijelaskan bahwa ISBN Publication Element adalah jumlah produk buku. Semakin besar digitnya maka semakin besar  jumlah kapsitas produksi bukunya. Untuk penerbit Mayor, memiliki rentan digit 3 hingga 4 digit.  Kapasitas produksi dan penjualan dalam hal ini dapat mencapai jumlah tertentu. Melalui jumlah yang besar ini, penerbit dapat mendistribusikan secara merata ke seluruh toko buku secara nasional. Sehingga, dapat dikatakan  penerbitan skala nasional.

Penyebutan ini akhirnya, diadopsi di peraturan-peraturan setelahnya.dalam hal untuk pengukuran indeks. Kemudian, melalui ini penulis-penulis yang tergabung dalam profesi, mengaharuskan untuk melahirkan sebuah tulisan. Tulisan ini dijadikan sebuah persyaratan bagi kenaikan pangkat golongan. Dalam peraturan Permen PAN angka kredit penulisan buku menjadi angka penting dalam kenaikan pangkat.

Tahun 2009 terbitlah peraturan pemerintah No 75 yang mengatur pelaksanaan  UU Perbukuan Nomor 3 Tahun 2017.  Peraturan ini berisikan pembagian jenis-jenis buku yang ditulis oleh penulis. Diantaranya adalah

  • Ø     Buku teks pelajaran,  memiliki angka kredit yang tinggi apalagi jika lolos dalam  BSNP( Badan Standar Nasional Pendidikan)
  • Ø     Buku non teks, berupa buku pengayaan dan buku modul pembelajaran
  • Ø     Buku umum, buku karya fiksi seperti halnya novel.

Lantas, bagaimanakah tipsnya agar karya kita dapat diterbitkan? Bagi saya pribadi, ini adalah pertanyaan yang sangat ditunggu-tunggu jawabannya. Alhamdulillah, Bapak Edi memberikan jawaban dan pencerahaan atas pertanyaan ini. Menurut Bapak Edi, ada beberapa point penting yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai penulis. Agar tulisan kita dapat diterbitkan. Diantaranya yaitu,

  • Ø  Perhatikan  sudut pandang penerbit terhadap calon naskah yang akan terbit. Dalam hal ini lebih kepada unsur market yang dominan.
  • Ø  Sesuaikan bahan naskah yang diterbitkan dengan visi dan misi penerbit, agar naskah dapat diterima.
  • Ø  Tulislah proposal pengajuan naskah  yang akan ditawarkan ke penerbit. Isi proposal adalah judul, sub judul jika ada, synopsis buku, outline, sampel bab(minimal 2 bab), dan CV Penulis.
  • Ø  Berikan penjelasan sasaran pemasaran. Untuk dapat membantu penerbit dalam memandang naskah kita.
  • Ø  Sertakan keungulan naskah buku kita dibandingkan dengan pesaing lain.
  • Ø  Kirimkan naskah buku kebeberapa penerbit. Tapi, pastikan penerbit anggota IKAPI. Agar lebih dihargai dalam penilaian angka kredit yang lebih maksimal.

     Di era pandemi ini, dengan segala kondisi yang ada. Perlu kita sadari bahwa semua yang ada penuh dengan keterbatasan. Bapak Edi pun menyampaikan, bahwa tidak semua buku dapat diterbitkan oleh penerbit. Penerbit Andi sendiri hanya dapat menerbitkan 20-30 persen saja, dari 200 naskah yang masuk ke penerbit. Keterbatasan modal, strategi pemasaran, dan masa pandemic menjadi kendala dalam pendistribusian buku.

    Proses perubahanpun terjadi dalam pendistribusian buku.  Pendistribusian lebih banyak ke ranah digital. Kerjasama pemasaran saat ini dijalin bersama Google Play. Untuk dapat menebus ke pasar digital. Menyikapi hal ini, tentu mau tidak mau. Suka tidak suka, atau bisa tidak bisa kita harus menerima perubahan tersebut. Semoga apa yang tengah terjadi, tidak dapat menjadikan kita  kehilangan semangat dalam berkarya. 

Pesan yang begitu berkesan dari Bapak  Edi Mulayanta di akhir pertemuan adalah

Jangan pernah  putus asa menawarkan tulisan ke penerbit. Penerbitpun membutuhkan karya-karya baru yang dapat memberikan warna baru di dunia menulis. Keuntungan dari penerbitan, sangat membantu penerbit untuk terus bertahan dan tumbuh. Begitupun dengan penulis, ketika tulisan itu dapat diterbitkan, dan dipasarkan. Penulis juga akan terus tumbuh dalam berkarya hingga akhirnya berjaya.

Inti dari pesan Bapak Edi, meminta kita untuk terus semangat. Jika ada lima kali kegagalan . Maka  akan ada delapan langkah kesuksesan. Terus berkarya dan   terus menebar manfaat.

Dwi Rahmiati

MTs Negeri 2 Mukomuko

 

 

0 komentar:

Posting Komentar