Alhamdulillah, itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa bersyukur saya. Malam hari ini, semua rasa penasaran saya terjawab sudah. Di pertemuan ke sembilan belas ini, kami peserta menulis gelombang 17. Diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan bapak professor hebat. Selama pelatihan menulis, kami seringkali mendengar nama bapak professor disebutkan. Ada beberapa narasumber hebat, yang menyampaikan pengalaman menarik dan membanggakan saat kolaborasi bersama bapak professor. Semakin sering dibahas, saya semakin penasaran. Siapakah sosok fenomenal ini, yang begitu memukau dan memikat hati untuk semangat belajar?
Bahkan
moderator handal, yakni Bunda Aam Nurhasanah. Merupakan salah satu alumni yang
berhasil mewujudkan impiannya. Berhasil menebus penerbit mayor bersama bapak
professor. Bapak professor ini adalah Professor Richardius Eko Indrajit.
Beliau
adalah seorang akademisi dan pakar teknologi informatika. Lahir di Jakarta 24
Januari 1969. Dengan segudang prestasi yang tak diragukan. Banyak karya hebat
yang telah membahana tidak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri. Menempuh program pendidikan di berbagai
universitas luar negeri. Telah mengantarkan professor menduduki berbagai
jabatan penting. Hingga pernah menjadi staff khusus menpora. Masya Allah,
sungguh pencapaian prestasi yang luar biasa. Dalam hati saya bershalawat,
semoga kesuksesan prof dapat tertular kepada saya. Hidup ini terasa lebih
berarti jika telah memberikan manfaat bagi orang lain. Untuk lebih mengenal
sosok Professor Ricahardus Eko Indrajit, maka kita dapat mengunjungi situs http://id.wikipedia.org/wiki/Richardus_Eko_Indrajit.
Malam
ini, ada paparan yang special dari Prof Ekodji. Saat menuliskan paparan materi,
Prof Eko menuliskan angka dari setiap materinya. Mulai dari satu hingga tiga
puluh. Materi pembalajaran yang disampaikan begitu unik. Bahasanya sederhana,
namun mudah dicerna.
Menelusuri
jejak beliau, dalam menghasilkan tulisan hebat dalam waktu kilat. Tema menulis malam
ini pun adalah Kiat Menulis Buku dalam Waktu Seminggu. Menulis. Terkesan sangat
berat, lebih berat daripada harus merindu.
Sebagai
manusia, seringkali kita menjalin komunikasi dengan cara bercerita. Bercerita
apa saja yang dapat kita ceritakan. Ketika telah bercerita, maka seakan bahan
cerita kita mengalir begitu saja. Kegiatan bercerita yang kita lakukan tentu
akan berlansung setiap hari. Mulai dari kegiatan kita. Pekerjaan kita.
Kebersamaan dengan keluarga, serta banyak hal-hal lainnya.
Konsep
dalam menulis adalah sederhana, saat apa yang kita ceritakan kita tuangkan
dalam tulisan. Maka dapat kita bayangkan berapa lembarkah tulisan yang telah
kita buat. Misalkan, ada diantara kita yang betah untuk bercerita. Bahkan telah
manghabiskan waktu kurang lebih satu jam ataupun lebih untuk bercerita. Namun
kali ini konsep bercerita kita lewat mulut. Kita ubah menjadi via tulisan. Ini adalah salah satu cara agar dapat tembus menulis buku dalam
waktu seminggu. Berikut ada beberapa hal penting, yang dapat kita lakukan untuk dapat menulis
buku dalam waktu seminggu.
1. Pilihlah
satu topik yang disukai dan kuasai. Jangan ceritakan ke orang lain lewat obrolan tapi sampaikan
lewat tulisan
2. Lakukan
kegiatan menulis tanpa harus menunggu.
3. Belajar
untuk komitmen dan konsisten dalam menulis. Jadikan menulis sebagai pembiasaan
diri. Saat kita kehilangan ini, Prof
menyampaikan bahwa ia pernah memaksa dirinya. Hingga akhirnnya berkhayal dan
menghasilkan tulisan.
4. Menulislah
tidak hanya semata untuk publikasi tapi menulislah dengan hati. Agar kita
bahagia, sesibuk apapun kita. Menulis tidak akan membuat kita menjadi lelah,
karena kita melakukan dengan bahagia.
5. Saat
kita membutuhkan waktu luang dalam menulis, kita harus komunikasikan dengan
keluarga. Agar apa yang kita lakukan dapat dikerjakan dengan senang, tanpa ada
hambatan dan tanpa ada yang kurang nyaman dengan kegiatan kita.
Quote
Note dari Prof Ekodji yang begitu memukau adalah harimau mati meninggalkan belang,
gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, sejak dulu
nenek moyang kita mengingatkan agar kita menulis. Untuk hidup kita seribu tahun
lagi.
Saat
kita bukan siapa-siapa di dunia ini, maka menulislah. Hingga kebermanfaatan
kita untuk dunia akan terus abadi selamanya.
#semangatmenulisbukudalamsatuminggu
#akubisapastibisa
Dwi
rahmiati (Guru MTs Negeri 2 Mukomuko)

Mantaps.. semangat terus
BalasHapusMantaaap pak...semangat menulus dan nenginspirasi
BalasHapusterus menulis dan menginspirasi, semangat!
BalasHapus