Menulis Inspirasi Berbagi motivasi

Minggu, 07 Februari 2021

Menulis di Blog Jadi Buku

 


Bapak ibu guru yang hebat

 Di pertemuan ke 13 kelas menulis kali ini, agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Jika biasanya tepat pukul 19.00. Akan hadir bapak/ ibu hebat sebagai moderator dalam kelas menulis. Sebelum dimulai materi, moderator terlebih dahulu menyapa peserta dengan sapaan hangat dan semangat. Mepaparkan  secara sekilas tentang profil narasumber dan hal-hal ini yang berkaitan dengan kelas menulis. Namun, di kelas menulis kali ini, tidak ada moderator yang menyapa. Dalam hati bergumam, apakah iya malam ini kelas menulis libur ya?

Pukul 19.08 Om Jay hadir menyapa seluruh peserta grouf menulis gelombang 17.  Di awal pertemuan, Om Jay  memberikan sebuah link untuk perlombaan menulis di blog.  Link itu berisi persyaratan yang harus diikuti peserta dalam mengikuti perlomabaan. Selama 28 hari peserta lomba diminta untuk menulis di blog YPTD. Tulisan harus diposting setiap harinya dengan menampilkan logo PGRI dan logo  IG TIK PGRI. Tulisan yang diposting tidak boleh bersifat sara. Peserta yang mengikuti perlombaan harus merupakan anggota PGRI. Jika belum terdaftar, peserta diharapkan mendaftarkan diri secara online. Tulisan yang diposting pada saat perlombaan bertema bebas. Boleh menulis karya berupa sastra ataupun karya non fiksi. Intinya peserta boleh menulis sesuai dengan apa yang dikuasai, dan apa yang disukai. Jika peserta telah menulis sebanyak 28 kali, maka tulisan tersebut akan dibukukan menjadi buku secara gratis.

Bagaimanakah syaratnya menjadi pemenang, di ajang perlombaan ini? Jawabannya adalah peserta harus menulis pada setiap harinya selama 28  hari. Tidak ada satu haripun yang boleh terlewat. Wah, sebuah tantangan yang luar biasa sekali. Terutama bagi kita para penulis pemula. Tentu akan sangat membantu kita dalam mengasah kemampuan menulis.

            Tak lupa,   Om Jay kembali mengingatkan kepada semua peserta untuk mengisi daftar hadir dan membuat resume hasil karya sendiri, hingga nanti kumpulan resume itu akan dapat berubah menjadi sebuah buku yang bermanfaat.

            Dalam pertemuan ini,  Om Jay akan berbagi lewat bercerita pengalaman dalam menulis blog.  Pertemuan di kelas menulis ini, adalah masuk kategori edisi special. Om Jay tidak hanya bertindak sebagai narasumber tapi juga berperan langsung sebagai moderator.

Sebelum dimulai Om Jay, menyampaikan sebuah berita duka. Bahwa ada beberapa guru pengurus PGRI yang telah berpulang. Sementara belum banyak jejak digital yang ditinggalkan. Oleh karena itu, Om Jay sangat mengajak bapak ibu guru untuk semangat menulis dan menerbitkan buku. Saya ingat kembali, salah seorang narasumber yang mengatakan bahwa jika ingin hidup kita abadi maka menulislah. Walaupun raga tak lagi bernyawa. Tapi kita tetap dapat hidup lewat karya yang kita cipta.

            Om Jay, kembali teringat dengan satu sosok sahabat pena Om Jay. Beliau adalah Bang Dian Kelana.  1 Januari 2021 yang lalu, beliau baru saja berpulang. Namun sebelum berpulang, Bang Dian sempat menebar manfaat dengan tulisannya di blog YPTD . Tulisan itu berisikan tentag cara memposting tulisan di blog YPTD.  Alhamdulillah, luar biasa sekali. Artikel itu telah dibaca oleh 600 orang. Sampai saat inipun sangat membantu rekan-rekan yang mengalami kesulitan untuk memposting di blog YPTD. Dalam hal ini. Bang Dian menjadi bukti nyata bahwa walaupun kita sudah taka da, saat tulisan kita terus dibaca. Maka seakan kita tetap hidup selamanya, dan terus dapat bermanfaat.

            Dalam pemamparannya, tak henti Om Jay menyebutkan kekagumannya dengan Bang Dian kelana. Tak hanya sebagai blogger, ternyata Bang Dian Kelana merupkan seorang youtober. Semangat dan antusias beliau dalam belajar sangatlah tinggi. Meski beliau hanya tamat sekolah dasar, namun pemikiran beliau untuk maju tak kalah dengan orang yang bergelar sarjana.

            Bagi Bang Dian Kelana,  dengan menulis di blog. Konsistensi kita dalam menulis akan tertempa. Pernyataan ini bagi saya sangat tepat sekali, dengan menulis setiap hari.tidak hanya pemikiran kita yang terlatih. Tapi hati kita juga akan lebih peka, peka terhadap hal-hal yang terjadi disekitar kita. Oleh karena itu, menulis tidak hanya sekedar menulis. Tapi saat menulis, kita akan menulis dengan hati. Sehingga tulisan kita akan memberikan rasa tersendiri.

            Sebelum ditutup, Om Jay menyampaikan rasa opitimisnya bahwa nanti akan terbit 50 buku dalam ajang perlombaan ini. Rasa optimis Om Jay, ikut membangkitkan energy positif dalam diri saya. Saya harus lebih semangat dalam menulis.Harus bisa memenuhi tantangan dalam menulis sebuah buku dari kumpulan artikel yang saya buat.

            Alhamdulillah, meskipun kuliah menulis di pertemuan 13 ini tidak diisi oleh narasumber yang telah dijadwalkan. Lantaran ada suatu halangan. Namun, pertemuan ke 13 ini tetap memberikan eksis dan membahana. Terimakasih om Jay atas, informasi, dan suntikan semangat menulisnya. Moga akan banyak penulis-penulis unggul yang lahir dari sentuhan tangan Om Jay.

           

1 komentar:

  1. Tulisannya Rapi, dan berisi. Mantap Bu . Salam literasi

    BalasHapus