Saat
kita membaca karya-karya dari para penulis hebat. Rasa kagum dan terkesima pasti
selalu hadir. Ide-ide kreatif dari penulis begitu mengalir. Dikemas dengan
bahasa yang apik. Membuat kita begitu menikmati, setiap kata demi kata yang
tertulis. Tak rela jika harus terlewat walaupun hanya satu kata saja.
Membaca
dari rentetan karya Andrea Hirata, dengan buku tetraloginya. Pembaca seakan
begitu dekat dengan alam yang digambarkan oleh Andrea Hirata. Seperti halnya
saat ia menggambarkan pulau Belitung atau kota Perancis dari novel Sang Pemimpi
dan Endensor.
Ada
juga Asma nadia dengan novel dan cerpennya. Rangkaian kata dan alur yang apik, membuat pembaca begitu
terkuras emosinya. Ada- ada saja ide yang yang dikembangkan. Hingga melahirkan
karya yang membahana.
Tak
kalah hebat, Bapak Munib Qatib juga
sangat sukses membius pembaca dalam karya-karya pendidikannya. Seperti dalam bukunya,
Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia dan Sekolah Anak Juara. Ide-ide kreatif
tentang guru dan pendidikan mengalir dengan sangat indah. Meski dengan bahasa
yang sederhana namun sangatlah memotivasi.
Banyak
orang hobi membaca, namun saat ingin mencoba menulis. Seringkali kesulitan dalam menemukan ide dan
mengembangkannya. Kebingungan mencari
ide apa, yang lebih pas untuk dikembangkan. Meskipun banyak ada hal menarik,
disekitar kita yang dapat kita jadikan ide.
Pertemuan
ke 14 di kelas menulis kali. Memberikan pencerahan bagi kita dari
permasalahan soal ide menulis. Lewat Bapak Agus Sampurna. Beliau adalah Education Spesialis dan sekaligus ketua
yayasan Pendidikan di Sorowako Sulawesi Selatan. Di tahun 2015 hingga 2020,
Bapak Agus sempat menjadi konsultan sekolah dan project leader pada putra
sampoerna foundation school Devolepment Outreach di Jakarta.
Dalam
kesempatan berbagi kali ini, peraih penghargaan blog pendidikan terbaik detik
com pada tahun 2009. Mengawali pencerahaannya dengan sebuah catatan bahwasanya 90% ide tulisan itu
muncul. Saat kita tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang
tulisan kita. Sedangkan 10% keberhasilan kita dalam menulis adalah dari
seberapa kita konsistensi dalam menulis. Dapat diartikan, ide memegang peran
paling penting dari menulis.
Berkaitan
dengan bagaimankah kita dapat menemukan ide yang menarik kemudian dapat
mengembangkan ide dalam tulisan. Pak Agus memberikan point penting yang perlu
kita lakukan. Salah satunya adalah membuat
daftra ide yang muncul, kemudian baru kita kembangkan dalam tulisan.
Proses untuk mendapatkan ide bisa kita lakukan lewat trik ATM( Amati, Tiru, dan
modifikasi). Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini. “No
thing New Under The Sun’s.
Memberikan
pencerahan dalam menemukan ide saat menulis, ada beberapa tips dari Pak Agus.
Tips yang dapat diterapkan kita cermati dan kita terapkan, diantaranya adalah
v Menulislah
dengan hati, kemudian mengeditlah dengan pikiran. Utamakan pembahasan inti.
Buanglah dengan jauh hal tak perlu
v Jangan
mengahakimi diri sendiri saat kita mulai
menulis
v Sederhanakanlah
pesan saat menulis, buatlah tulisan kita menarik dan tidak membosankan untuk
dibaca
v Menulislah
dengan baik seperti halnya kita berpikir dengan baik
v Perbanyak
kuantitas dalam menulis, agar kita terlatih.
v Pisahkan
kegiatan mencari ide dan menulis
v Konsistenlah
dalam menulis,
v Miliki
gaya sendiri dalam menulis.
v Publikasikan
tulisan menjadi sebuah hasil karya bukan
hanya sekedar asal posting
v Jangan
pernah memaksakan diri untuk punya
produk asli sendiri. Tanpa butuh referensi. Hal ini akan menyebabkan penulis justru
merasa kesulitan hingga akhirnya meninggalkan menulis.
Pencerahan yang
diberikan oleh Pak Agus begitu padat berisi, sangat dekat denga apa yang kita
alami sebagai penulis. Terutama penulis pemula.
Dari pencerahan tersebut, mari kita terapkan. Sehingga ilmu yang kita
dapatkan tidak hanya sebatas teori. Harus ada aplikasinya, agar keberhasilan
kita dalam menulis dapat terwujud. Menjadi penulis hebat sudah terasa lebih
dekat, bahkan sangat dekat.
Dwi
Rahmiati
MTs
Negeri 2 Mukomuko

Mantap. Pancing Ide dengan ATM (amati, tiru, modifikasi) teknik jitu. saya sepakat. Lanjutkan semangat menulis. Salam Literasi.
BalasHapus