Assalamualaikum wr wb.
Bapak/Ibu guru hebat
Menjadi gurunya manusia
tentu, bukanlah hal biasa. Namun sangat luar biasa, karena setiap harinya yang
kita didik adalah makhluk hidup yang terus bergerak, berubah, dan berkembang.
Sebagai gurunya manusia, kita sebagai guru tidak bisa untuk terus berada
di zona nyaman. Cukup nyaman dengan apa yang sudah kita berikan sekarang.
Dengan istilah, cukuplah yang penting kewajiban dalam mengajar sudah
tertunaikan.
Peran kita sebagai guru,
tidaklah cukup hanya sebatas mengajar dan menuntaskan materi saja. Guru juga
harus memiliki kepiawaan dalam mendidik siswa, baik dari segi pengetahuan,
sikap, dan keterampilan. Pemberian materi pengetahuan, mungkin bisa
dilakukan dengan cara, cukup mentransfer materi dari buku saja, atau anak
diminta mencari materi di google. Akan tetapi, bagaimanakah cara kita mendidik
anak dari sisi sikap dan keterampilan seorang anak? Ditambah lagi di era serba
teknologi, dan masanya adalah masa pandemi. Semua kegiatan kita sebagai
guru, secara otomatis diahlihkan menjadi serba digital. Mau tidak mau,
suka tidak suka, atau pandai tidak pandai kita harus tetap menghadapi dan
menjalani itu semua. Sebagai guru, muncullah pertanyaan dalam benak kita
masing-masing. Apakah yang harus kita lakukan?
Bapak/Ibu guru hebat
Allah menciptakan kita
sebagai manusia dengan penuh kesempurnaan. Dikarunia kita akal, agar kita bisa
berfikir. Mencari solusi dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Bukan
malah berlari meninggalkan semua, agar tetap nyaman di zona awal.Tapi
setiap waktu yang berlalu tak pernah kita temui perubahan untuk menjadi manusia
lebih baik.
Sedikit bercerita tentang
kisah awal saya, sebagai guru milineal di era pandemi ini. Ketika diputuskan
oleh pemerintah bahwa pembelajaran dilakukan secara daring. Saya merasakan
pusing bukan kepalang bapak ibu. Saya bingung, bagaimana cara saya menyajikan
materi kepada siswa agar lebih diterima siswa dan tidak membosankan. Sementara
saya, adalah guru yang tidak terlalu melek teknologi Jangan untuk menggunakan
blog, pemanfaatan google formulirpun saya masih bingung. Namun, saya
berkeyakinan bahwa saya akan usaha untuk belajar agar saya bisa mengusai
pembelajaran daring ini. Akhirnya, menebalkan muka untuk terus menggali dari
teman yang mumpuni masalah teknologi. Saya pun bisa membuat google fromulir dan
menerapkannya dalam pembelajaran. Hingga akhiranya, Allah mempertemukan
saya di kelas menuli Om Jay ini.
Jumat malam, tepatnya
tanggal 15 Januari 2021, alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat. Kelas
menulis gelombang 17, memasuki pertemuan yang ke enam. Dalam pertemuan ini,
kami kedatangan narasumber syantik dan hebat. Seorang guru milineal dengan
segudang prestasi handal. Muda, cantik, berbakat, dan smart tentunya. Beliau
adalah ibu Theresiya Sri Rahayu, S.Pd, SD.
Tema yang diangkat oleh
narasumber dalam pertemuan kali ini adalah Blog Sebagai Identitas
Digital Bagi Guru Milenial. Tema ini tentu begitu dekat dan
melekat bagi kita sebagai guru di tengah era pandemi. Semua tentu berharap,
tetap berprestasi meski zaman tengah pandemi.
Di awal pertemuan,
narasumber menyajikan sebuah link yaitu https://www.cikgutere.com/2021/01/tere-bukan-liye.html. berisikan
sekilas profil beliau dari kisahnya sebagai Tere Tanpa Liye, hingga adanya
sematan nama Cikgu Tere yang melakat pada dirinya. Cikguru Tere adalah sebuah
nama yang ia dapatkan saat mengikuti Short Course guru ke luar negeri di tahun
2019. Dara manis asli Kuningan ini, mendapatkan kesempatan yang mengajar di
salah satu SD yang berlokasi di George Tone, Penang, Malaysia.
Ketika diberikan kesempatan untuk berselancar, demi mengenal sosok
Cikgu Tere. Jujur, saya pribadi sangat bersemangat. Penasaran benar, dengan
sosok Cikgu hebat ini. Ternyata benar, pencarian lewat googling ini memberikan
jawaban atas semua pertanyaan saya mengenai sosok perempuan yang luar biasa
ini. Pencarian langsung terhubung ke
blog yang dikelola oleh Cikgu Tere. Isi blognya mantap, penuh inspirasi.
Cikgu Tere, memang sangat totalitas dalam mengefektifkan
penggunaan blog yang beliau miliki. Blog yang berisi tentang dunia pendidikan, banyak
menampilkan hal-hal menarik dan sangat menginpirasi. Hingga saya, cepat
berfikir untuk mengambil kesempatan bertanya kepada Cikgu Tere. Pertanyaan saya
adalah Bagaimanakah cara mengefektifkan blog yang kita miliki. Tak disangka, penjelasan yang diberikan Cikgu
Tere terhadap pertanyaan saya, sangat detail dan mudah dipahami. Begitupun
dengan penjelasaan dari pertanyaan-pertanyaan lain.
Di era digital, hampir semua
orang tidak terlepas dari penggunaan sosial media. Baik itu facebook, web, atau yang paling
ngetrend adalah pemanfaatan blog. Setiap
hari kita bisa memulai menulis di blog pribadi yang kita miliki. Menulis apa
saja yang kita alami, kita rasakan, dan peristiwa-peristiwa penting yang
terkait dengan segala hal berkaitan dengan tugas kita sebagai guru di sekolah. Misalnya tentang
materi pembelajaran yang dapat digunakan saat BDR, langkah – langkah pembelajaran,
penilaian, dll.
Bapak/Ibu guru hebat,
berikut ini tips dari Cikgu Tere tentang cara membuat konten blog yang menarik
dan berkualitas yaitu,
- Hindari
plagiasi dengan cara membuat konten yang orisinil
- Mudah
dipahami dan diterapkan
- Tulisan
konten yang singkat, padat, dan jelas
- Kombinasikan
tulisan dengan gambar atau vidio
- Buatlah
konten Up to date ( terbaru)
- No Hoak (Saring sebelum sharing)
- Ciptakan
Engaging Content
- Lakukan swa editing untuk menghindari typo.
Secara keseluruhan, bagi saya pribadi hal menarik yang dibagikan oleh Cikgu Tere adalah
1.
Maksimalkan potensi blog
yang kita miliki sebagai media pembelajaran.
2.
Terapkan model pembelajaran
inovatif agar lebih menarik perhatian siswa
3.
Tumbuhkan rasa percaya diri
saat kita belajar. Apapun yang kita hadapi, harus tetap semangat. Semangat untuk terus menebar manfaat. Karena
apa yang kita alami, tentu tidak kita alami sendiri. Tapi juga dialami oleh
orang lain.
Dwi
Rahmiati
MTs
Negeri 2 Mukomuko

tulisan yang luar biasa, rapi, enak dan mudah untuk dibaca. semangat berkarya, semangat menginspirasi
BalasHapusMantap dan lengkap resumenya Bu Dwi. Takadakata terlambat untuk berkarya Bu, lanjut dan tetap semangat.
BalasHapus